Jembatan Garuda Akhirnya Berdiri, Warga Tak Perlu Lagi Uji Nyali di Atas Pipa

Jembatan Garuda Akhirnya Berdiri, Warga Tak Perlu Lagi Uji Nyali di Atas Pipa

Ada kabar baik dari Medan. Setelah sekian lama warga mempertaruhkan keseimbangan tubuh sekaligus keberanian setiap kali menyeberangi sungai lewat pipa air, akhirnya Jembatan Perintis Garuda resmi dibuka.

Jembatan sepanjang 35 meter itu memang bukan proyek yang akan masuk daftar tujuh keajaiban dunia. Lebarnya hanya 1,5 meter. Tetapi bagi warga Medan Polonia, Medan Johor, dan Medan Maimun, ukurannya jauh lebih besar daripada sekadar angka. Ia mengembalikan sesuatu yang selama ini hilang: akses yang aman.

Peresmian dilakukan Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa bersama Wali Kota Medan Rico Waas. Prasasti ditandatangani, pita dibuka, dan yang paling penting, warga akhirnya bisa menyeberang tanpa harus berharap sepatu tidak terpeleset di atas pipa.

Kalau dipikir-pikir, pipa itu memang luar biasa. Fungsi aslinya menyalurkan air, tetapi selama bertahun-tahun dipaksa menjadi jembatan darurat. Mungkin hanya di negeri yang penuh kreativitas ini sebuah pipa bisa mendapat pekerjaan tambahan tanpa pernah menerima tunjangan risiko.

Yang paling menyedihkan tentu bukan pipanya, melainkan kenyataan bahwa anak-anak sekolah setiap hari harus melewati jalur itu demi sampai ke kelas. Berangkat sekolah seharusnya membawa tas dan buku, bukan membawa keberanian ala atlet panjat tebing.

Menurut Rico Waas, jembatan lama sebenarnya merupakan bekas jalur rel kereta api yang rusak diterjang banjir pada 2024. Sejak saat itu akses warga terputus. Baru setelah berbagai koordinasi dilakukan sejak April 2026, pembangunan dimulai dan selesai sekitar lima pekan.

Artinya, ketika semua pihak akhirnya duduk di meja yang sama, solusi ternyata tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun. Kadang yang paling lama memang bukan membangun jembatannya, tetapi membangun kesepakatan di ruang rapat.

Pangdam I/Bukit Barisan menyebut pembangunan ini sebagai hasil sinergi TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat. Bahkan Kodam I/BB mencatat sudah membangun ratusan jembatan di Sumatera Utara. Sebuah pengingat bahwa infrastruktur sederhana sering kali jauh lebih dibutuhkan masyarakat dibanding seremoni yang megah.

Jembatan ini juga menjadi pelajaran kecil bagi birokrasi. Keluhan warga sering kali tidak membutuhkan kajian setebal skripsi atau presentasi berpuluh-puluh slide. Mereka hanya ingin bisa berangkat bekerja, berdagang, atau mengantar anak sekolah tanpa harus mempertaruhkan keselamatan.

Kini Jembatan Perintis Garuda telah berdiri dan kembali menyambungkan tiga kecamatan yang sempat terputus. Semoga setelah ini tidak ada lagi warga yang harus menjadikan pipa sebagai jalur transportasi alternatif. Sebab pipa tetaplah pipa, bukan trotoar, bukan jembatan, apalagi arena seleksi acara uji nyali.

Kalau ada hikmah yang bisa dipetik, mungkin hanya satu: ketika pemerintah bergerak cepat dan semua pihak benar-benar berkolaborasi, yang terhubung bukan hanya dua tepi sungai, tetapi juga kembali tumbuhnya kepercayaan masyarakat bahwa persoalan publik memang bisa diselesaikan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *