PRSU ke-50: Ketika Keliling Sumatera Utara Tak Perlu Isi Tangki Penuh

PRSU ke-50: Ketika Keliling Sumatera Utara Tak Perlu Isi Tangki Penuh

MEDAN – Ada anggapan yang sudah telanjur melekat kalau datang ke Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) itu ujung-ujungnya cuma dua: nonton konser atau pulang bawa jajanan. Padahal, kalau mau jalan sedikit lebih jauh dari panggung hiburan, PRSU sebenarnya seperti “Google Maps” versi jalan kaki untuk mengenal Sumatera Utara.

Itulah yang dirasakan Gischa Ayu Sabrina (20). Kunjungan pertamanya ke PRSU ke-50 ternyata bukan sekadar berburu musik dan makanan, tetapi juga menjadi perjalanan singkat menjelajahi berbagai daerah tanpa harus pindah kabupaten.

Begitu masuk ke area PRSU, pilihannya langsung banyak. Mau belok ke konser? Bisa. Mau mengejar aroma kuliner yang menggoda iman? Tinggal ikuti hidung. Atau mau melihat wajah setiap kabupaten dan kota lewat paviliunnya? Tinggal lanjutkan langkah.

“Ini pertama kali saya datang ke PRSU dan ternyata seru sekali. Di sini banyak kuliner, ada konser, dan juga paviliun dari kabupaten dan kota di Sumatera Utara yang menurut saya menarik untuk dikunjungi,” katanya, Rabu (29/7/2026).

Menurut Gischa, setiap paviliun punya cara sendiri memperkenalkan daerahnya. Rasanya seperti keliling Sumatera Utara, tetapi ongkos perjalanannya cukup sepasang sepatu yang nyaman.

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Paviliun Kabupaten Batu Bara. Bangunan bergaya rumah panggung dengan dominasi kayu membuatnya merasa nuansa tradisional benar-benar dihadirkan, bukan sekadar dipajang.

“Saya suka Paviliun Batu Bara karena nuansa tradisionalnya terasa sekali. Bangunannya didominasi kayu seperti rumah panggung, sehingga suasana khas daerahnya benar-benar hidup,” ujarnya.

Sebagai warga Deli Serdang, tentu ada rasa penasaran melihat bagaimana daerahnya tampil. Menurutnya, Paviliun Deli Serdang berhasil memadukan budaya Melayu dengan sentuhan modern. Warna kuning dan putih mendominasi, sementara ornamen persawahan mengingatkan bahwa daerah itu memang tumbuh dari kekuatan sektor pertanian.

Nilai tambahnya bukan cuma bangunan, tetapi juga sambutan petugas yang ramah. Di tengah pameran, keramahan kadang lebih mudah diingat daripada dekorasi yang mahal.

Perjalanan kemudian berlanjut ke paviliun peserta internasional. Kehadiran Paviliun Malaysia menjadi kejutan tersendiri. Di sana, Gischa mencicipi teh khas Malaysia dan camilan kuaci tanpa kulit yang menurutnya unik sekaligus praktis.

“Yang paling menarik menurut saya adalah produknya unik. Ada camilan seperti kuaci yang sudah tanpa kulit sehingga lebih praktis dimakan. Saya juga sempat mencicipi teh khas Malaysia yang rasanya enak. Petugasnya menjelaskan manfaat produknya dengan sangat ramah sehingga membuat saya tertarik,” ungkapnya.

Tentu saja, tidak sah rasanya datang ke PRSU tanpa mampir ke kawasan kuliner. Dimsum, bakso bakar, ayam Al-Masri, hingga nasi briyani masuk dalam daftar yang berhasil dicicipinya. Di PRSU, urusan diet memang sering kali kalah cepat dengan aroma makanan yang beterbangan dari setiap sudut.

Saat malam tiba, lampu-lampu mulai menyala, musik dari panggung utama menggema, anak-anak masih berlarian, sementara antrean di stan makanan tetap panjang seolah perut pengunjung tidak mengenal jam tutup.

Bagi Gischa, suasana itu membuat PRSU terasa lebih dari sekadar tempat hiburan. Ini adalah ruang bertemu berbagai budaya, kuliner, dan masyarakat dari seluruh penjuru Sumatera Utara dalam satu kawasan.

Soal penilaian, ia bahkan tidak pelit memberi angka.

“Kalau disuruh memberi nilai, saya kasih 10 dari 10. PRSU menurut saya keren dan sangat layak dikunjungi. Semoga acara seperti ini terus diselenggarakan karena menjadi tempat masyarakat menikmati hiburan sekaligus mengenal kekayaan daerah yang kita miliki,” tuturnya.

Di usia penyelenggaraannya yang ke-50, PRSU tampaknya masih mampu menjalankan fungsi yang sering terlupakan: bukan hanya menghibur, tetapi juga memperkenalkan identitas daerah. Sebab, kadang untuk mengenal Sumatera Utara, kita tidak harus menempuh perjalanan ratusan kilometer. Cukup berjalan dari satu paviliun ke paviliun berikutnya—asal jangan berhenti terlalu lama di stan kuliner, nanti tujuan awalnya malah berubah jadi wisata perut.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *