Harli Siregar Hadiri Syukuran Doktor Sugiat Santoso: “Sudah Aman, Tinggal Pertanggungjawabannya”

Harli Siregar Hadiri Syukuran Doktor Sugiat Santoso: “Sudah Aman, Tinggal Pertanggungjawabannya”

MEDAN — Gelar doktor boleh jadi puncak perjalanan akademik. Tetapi setelah toga dilepas dan ijazah disimpan rapi, pertanyaan berikutnya justru lebih berat: ilmu yang sudah diraih itu mau dibawa ke mana?

Pertanyaan tersebut terasa relevan dalam acara syukuran wisuda Dr. H. Sugiat Santoso, SE, SH, MSP, di Le Polonia Hotel Medan, Jumat (28/8/2026). Sugiat Santoso baru saja meraih gelar doktor dari Universitas Sumatera Utara (USU) pada Rabu (26/8/2026).

Acara syukuran tersebut turut dihadiri Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung (Kabadiklat Kejagung) Harli Siregar, yang sebelumnya menjabat sebagai Kajati Sumatera Utara.

Dalam sambutannya, Harli mengaku bangga dapat hadir dalam momentum akademik Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI tersebut. Ia menyebut gelar doktor sebagai jenjang akademik tertinggi.

“Saya bangga bisa hadir dalam acara gelaran akademik seperti ini. Doktor adalah gelar akademik tertinggi. Sudah selesai. Selamat buat Bang Sugiat Santoso, semoga semakin mumpuni,” ujar Harli.

Namun Harli tidak berhenti pada urusan gelar akademik. Ia menilai Sugiat memiliki karakter yang mudah bergaul dan mampu merangkul berbagai kalangan.

Menurut Harli, Sugiat tidak membatasi pergaulan berdasarkan latar belakang sosial maupun politik. Tokoh akademisi, lintas partai, masyarakat, pemuda, hingga berbagai kelompok lainnya disebut dapat berkomunikasi dengannya.

“Beliau ini sosok yang tidak mengenal kelas, latar belakang, besar kecil, semua dilayani. Tokoh lintas partai. Ada kematangan politik yang dia miliki. Tidak lagi lokal, tapi sudah untuk bangsa dan negara kita ini dia berpikir,” jelas Harli.

Pujian Harli kemudian masuk ke wilayah yang lebih menarik: pertanggungjawaban. Menurutnya, gelar doktor bukan sekadar tambahan tiga huruf di depan nama, melainkan membawa konsekuensi intelektual.

“Luar biasa. Dengan gelar doktor sudah aman. Tinggal pertanggungjawabannya dia ke sana, dan itu dia pasti sudah paham untuk ke sana, tidak perlu lagi diajari,” sambung Harli.

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup serius. Sebab semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula ekspektasi publik terhadap gagasan dan kontribusinya.

Apalagi Sugiat kini duduk sebagai Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI. Dengan posisi tersebut, teori politik yang dipelajari di ruang akademik tentu akan berhadapan dengan realitas politik yang kadang tidak serapi teori.

Harli mengaku tertarik dengan teori politik yang dikembangkan Sugiat Santoso. Ia bahkan menyebut Sugiat telah menawarkan perspektif baru dalam politik yang dinilainya relevan dengan perkembangan Indonesia saat ini.

“Saya yakin. Mendengar teori politik yang dibuat oleh Bang Sugiat ini sangat sesuai dengan perkembangan negara saat ini. Terobosan dalam teori politik dia bisa diterima akal sehat kita semua, teorinya bisa masuk semua kalangan,” kata Harli.

Kalau teori tersebut benar-benar bisa diterapkan di lapangan, tentu menarik. Sebab politik Indonesia selama ini sudah cukup kaya teori, sementara tantangan terbesarnya sering justru ketika teori bertemu kepentingan.

Karena itu, gelar doktor Sugiat Santoso kini bukan lagi sekadar perayaan akademik. Ia membawa pekerjaan rumah baru: bagaimana pengetahuan, teori, dan gagasan tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan serta kerja politik yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Acara syukuran tersebut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh, di antaranya Wakil Wali Kota Medan, Wakil Bupati Deli Serdang, Wakil Wali Kota Tanjungbalai, Wakil Bupati Asahan, anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, anggota DPRD kabupaten/kota, serta Dandim Medan.

Hadir pula anggota DPR RI, Kepala Kanwil Imigrasi Sumut, Wakil Rektor USU, mantan Rektor UMSU, Ketua Walubi Sumut, Presidium KAHMI Sumut, tokoh akademisi, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta teman-teman Sugiat sejak SD, SMP hingga SMA di Kabupaten Langkat.

Dengan begitu banyaknya tokoh lintas profesi dan latar belakang yang hadir, syukuran tersebut sekaligus memperlihatkan luasnya jejaring sosial-politik Sugiat Santoso. Dari ruang akademik hingga panggung politik, semua tampak hadir dalam satu ruangan.

Kini gelar doktor sudah resmi disandang. Perayaan boleh selesai, foto bersama boleh tersimpan di galeri, dan ucapan selamat pun sudah disampaikan.

Tinggal satu bagian yang jauh lebih penting: membuktikan bahwa gelar doktor bukan sekadar tambahan pada nama, tetapi juga tambahan kualitas dalam menjalankan amanah sebagai wakil rakyat. Sebab di dunia politik, gelar akademik bisa membuat seseorang terlihat semakin pintar—tetapi kinerja tetap menjadi ujian akhirnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *