Rico Waas Ingin Jazz Tak Lagi Berjarak dengan Warga, CFN Disiapkan Jadi Panggung Musik Medan
MEDAN – Musik jazz di Kota Medan ingin dibuat lebih dekat dengan masyarakat. Tidak lagi identik dengan ruangan eksklusif, meja rapi, dan penonton yang seolah harus membawa “kartu anggota” untuk bisa menikmati alunan musiknya.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas justru ingin jazz turun ke ruang publik dan dinikmati berbagai lapisan masyarakat.
Gagasan itu disampaikan Rico saat menerima audiensi panitia North Sumatera Jazz Festival di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Jumat (18/9/2026).
Hadir dalam audiensi tersebut Ketua North Sumatera Jazz Festival Hendra Budiman, Ketua Pappri Sumatera Utara Eru Cakra, Wakil Ketua Pappri Irsan serta Bendahara Pappri Win Win. Rico didampingi Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan Odi Anggia Batubara.
Menurut Rico, kehadiran festival jazz di Medan merupakan sesuatu yang sejak lama diharapkannya. Karena itu, penyelenggaraannya harus dipersiapkan secara serius agar tidak berhenti sebagai pertunjukan musik semata.
Targetnya lebih jauh: membuka pintu jazz selebar-lebarnya bagi masyarakat.
“Jazz itu jangan hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Kita ingin bagaimana jazz bisa membumi dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Medan,” ujar Rico.
Jazz Turun dari Ruang Eksklusif
Rico menilai kemasan menjadi salah satu kunci agar jazz semakin dikenal berbagai kalangan.
Jazz, menurutnya, tidak harus selalu dimainkan di tempat yang terkesan eksklusif. Musik tersebut juga bisa dibawa ke ruang publik dengan suasana lebih santai dan terbuka.
Salah satu ruang yang ditawarkan adalah Car Free Night (CFN).
Menurut Rico, CFN dapat menjadi lokasi untuk menguji konsep pertunjukan jazz di ruang publik. Warga yang sebelumnya mungkin merasa jazz bukan “musik mereka” bisa datang, mendengarkan, dan menikmati pertunjukan tanpa harus merasa sedang menghadiri acara yang terlalu serius.
“Untuk Kota Medan, Car Free Night dapat menjadi salah satu ruang yang bisa dimanfaatkan untuk mencoba konsep pertunjukan jazz di ruang publik,” ungkapnya.
Dengan konsep seperti ini, orang yang awalnya datang untuk jalan-jalan atau sekadar mencari hiburan bisa saja pulang membawa playlist baru.
Minimal, mereka tahu bahwa jazz ternyata tidak selalu harus dinikmati sambil duduk diam dengan wajah serius.
Jangan Musisi Lokal Cuma Jadi Penonton
Rico juga mengingatkan agar festival jazz tidak hanya menjadi panggung bagi musisi-musisi ternama.
Talenta dan komunitas jazz lokal, kata dia, harus mendapatkan ruang yang cukup.
Sebab, jika panggung hanya diisi nama besar dari luar daerah, musisi lokal bisa saja hanya kebagian posisi sebagai penonton. Padahal, salah satu tujuan festival seharusnya adalah membangun ekosistem musik yang sehat di daerah.
Panggung bagi musisi lokal dinilai penting untuk membuka kesempatan tampil, membangun jejaring, sekaligus mendorong lahirnya talenta baru.
Festival yang digelar secara berkelanjutan juga diharapkan dapat memperkuat komunitas jazz dan memperkaya ruang ekspresi seni di Kota Medan.
Dengan begitu, jazz bukan hanya datang sebagai tamu, tampil sebentar, lalu pulang. Tetapi bisa tumbuh dan memiliki rumah sendiri di kota ini.
North Sumatera Jazz Festival Cari Dukungan
Ketua North Sumatera Jazz Festival Hendra Budiman mengatakan, audiensi dilakukan untuk berdiskusi dengan Wali Kota Medan mengenai perkembangan musik jazz sekaligus mengundang Rico Waas untuk berpartisipasi dalam konser North Sumatera Jazz Festival.
Hendra berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan terhadap festival tersebut.
“Saya berharap Pak Wali dapat mendukung festival jazz ini dan berbagai pihak dapat semakin memperkenalkan musik jazz sekaligus mendorong tumbuhnya talenta dan komunitas jazz di Kota Medan,” harapnya.
Harapan itu sejalan dengan gagasan Rico agar festival tidak berhenti pada satu kali pertunjukan.
Jika konsepnya matang, ruang publik seperti CFN bisa menjadi jembatan antara jazz dan masyarakat.
Dan kalau selama ini ada anggapan jazz hanya cocok untuk kalangan tertentu, mungkin sudah waktunya anggapan itu dibanting ke pinggir lapangan.
Sebab musik, pada akhirnya, tidak mengenal kelas sosial.
Yang dibutuhkan hanya panggung, pemain yang bagus, penonton yang mau menikmati—dan tentu saja, jangan lupa sound system yang jangan sampai lebih fals daripada pemainnya.(***)






