Rico Waas: Bina UMKM Jangan Berhenti di Pelatihan, Harus Sampai Menghasilkan Income
MEDAN – Pelatihan UMKM jangan sampai hanya berakhir dengan sertifikat yang kemudian rapi tersimpan di dalam map. Bagi Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, ukuran keberhasilan pembinaan pelaku usaha seharusnya jauh lebih konkret: usaha berjalan dan menghasilkan pendapatan.
Pesan itu disampaikan Rico saat menerima audiensi jajaran Mercy Corps Indonesia di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Jumat (18/9/2026).
Rico mendorong pola pembinaan UMKM dilakukan secara menyeluruh atau end-to-end, mulai dari munculnya ide bisnis, proses memulai usaha, pengelolaan operasional hingga membuka akses terhadap permodalan.
“Yang terpenting dalam membantu UMKM ialah secara end-to-end. Kita harus menyiapkan role model bisnis, mulai dari membuka usaha hingga menghasilkan income,” ujar Rico.
Jangan Jago Pelatihan, Tapi Bingung Jualan
Pernyataan Rico menyentuh persoalan klasik dalam pembinaan UMKM. Pelatihan bisa digelar berkali-kali, materi bisa berganti-ganti, bahkan dokumentasi kegiatan bisa memenuhi galeri ponsel.
Tetapi pertanyaan paling penting tetap sederhana: setelah pelatihan, produknya laku atau tidak?
Karena itu, Rico menilai pendampingan tidak cukup hanya menyasar pelaku UMKM yang usahanya sudah berjalan.
Masyarakat yang baru memiliki keinginan membuka usaha juga perlu mendapatkan bimbingan agar tidak berhenti pada tahap ide.
Menurutnya, pemerintah perlu membantu masyarakat memahami bagaimana sebuah usaha dimulai, dijalankan, dikembangkan hingga akhirnya mampu memberikan penghasilan.
Dengan pendekatan tersebut, pembinaan UMKM tidak hanya berbicara tentang teori berwirausaha, tetapi juga bagaimana teori tersebut benar-benar berubah menjadi aktivitas ekonomi.
Sebab, bagi pelaku usaha kecil, omzet bukan sekadar angka di laporan. Omzet bisa berarti uang belanja rumah tangga, biaya sekolah anak, cicilan, bahkan modal untuk membuka peluang usaha berikutnya.
Dari Ide Sampai Modal
Sementara itu, Program Director Mercy Corps Indonesia Andi Ikhwan menyampaikan capaian program pada tahun pertama sekaligus rencana diseminasi pembelajaran UMKM yang akan digelar pada 30 September mendatang.
Program tersebut berfokus pada penguatan kapasitas kewirausahaan, terutama dalam aspek pengelolaan keuangan dan akses pembiayaan.
Dua hal tersebut memang menjadi bagian penting dalam perjalanan UMKM. Sebab memiliki produk saja belum cukup. Pelaku usaha juga perlu mengetahui bagaimana mengatur arus kas, menghitung biaya, menentukan harga dan mencari sumber pembiayaan yang sesuai.
Dalam konteks itu, gagasan pembinaan dari hulu hingga hilir menjadi penting.
Jangan sampai calon pengusaha sudah diajari membuat produk, tetapi tidak diajari menghitung apakah produk tersebut menghasilkan keuntungan.
Atau sudah didorong membuka usaha, tetapi ketika ditanya soal modal kerja dan pengelolaan keuangan, jawabannya masih, “Nanti dipikirkan.”
Ukuran Keberhasilan Harus Terlihat
Audiensi tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Kota Medan Airin Rico Waas, Asisten Ekbang Citra Effendi Capah, serta Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Hendra Ridho Gunawan Siregar.
Pemko Medan dan Mercy Corps Indonesia diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem UMKM yang tidak hanya aktif mengikuti program pemerintah, tetapi benar-benar mampu berkembang secara mandiri.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pembinaan UMKM tidak cukup diukur dari berapa banyak peserta yang hadir dalam pelatihan.
Yang lebih penting adalah berapa banyak usaha yang tetap berjalan setelah pelatihan selesai, berapa banyak yang mampu meningkatkan omzet, dan berapa banyak pelaku usaha yang akhirnya bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Karena kalau pelatihan selesai, konsumsi habis, sertifikat masuk laci, sementara usaha tetap jalan di tempat, berarti yang berkembang baru kegiatan pelatihannya—bukan UMKM-nya.(***)






