Di tengah zaman ketika perhatian publik sering habis untuk memperdebatkan siapa paling benar di media sosial, ada kabar yang mengingatkan bahwa gotong royong masih punya alamat. Bukan dalam bentuk slogan, melainkan dalam wujud sebuah gedung yang kelak berdiri ratusan kilometer dari Kota Bekasi.
Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Aceh Tamiang untuk meninjau lokasi pembangunan Gedung Serbaguna Tamiang–Bekasi. Gedung ini bukan sekadar proyek konstruksi, tetapi simbol persaudaraan yang dibangun di atas kepedulian masyarakat.
Yang menarik, dana pembangunan bukan berasal dari pos anggaran biasa. Sekitar Rp4 miliar berhasil dihimpun dari sumbangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat Kota Bekasi sebagai bentuk bantuan kemanusiaan kepada Kabupaten Aceh Tamiang.
Satirnya sederhana. Di era ketika batas wilayah sering dijadikan alasan untuk berkata, “itu bukan urusan kita,” ternyata masih ada contoh bahwa rasa peduli tidak pernah meminta kartu identitas atau alamat domisili. Musibah, kebutuhan, dan kemanusiaan memang tidak mengenal batas administrasi.
Abdul Harris Bobihoe menegaskan bahwa pembangunan gedung ini merupakan wujud kerja sama kemanusiaan antara Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Karena berasal dari kepercayaan dan sumbangan masyarakat, setiap rupiahnya juga harus dipastikan digunakan secara tepat.
Itulah sebabnya kunjungan ini tidak berhenti pada seremoni silaturahmi. Kedua pemerintah daerah membahas mekanisme penyaluran dana, transparansi pengelolaan, hingga pemanfaatan bantuan agar pembangunan berjalan efektif dan sesuai tujuan. Lokasi pembangunan pun ditinjau langsung untuk memastikan kesiapan lahan dan progres awal di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menyampaikan apresiasi atas kepedulian masyarakat Kota Bekasi. Ucapan terima kasih itu bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan bahwa kolaborasi antardaerah masih menjadi kekuatan penting dalam membangun fasilitas publik yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, pembangunan sebuah gedung mungkin hanya akan terlihat sebagai tumpukan beton, baja, dan atap. Namun di balik bangunan itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih bernilai: kepercayaan, kepedulian, dan semangat gotong royong.
Karena gedung yang dibangun dengan dana masyarakat sejatinya bukan hanya berdiri di atas pondasi beton. Ia juga berdiri di atas keyakinan bahwa membantu sesama tidak harus menunggu mereka menjadi tetangga. Cukup menjadi sesama anak bangsa. Dan mungkin, itulah fondasi paling kokoh yang bisa dibangun oleh sebuah daerah untuk daerah lainnya.(***)







