GAMKI Disebut Mitra Strategis Pemprov Sumut, Pemuda Jangan Cuma Jago Tepuk Tangan
MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tampaknya tidak ingin urusan pembangunan daerah hanya menjadi pekerjaan para pejabat yang sibuk dengan rapat, dokumen, dan tumpukan agenda. Pemuda pun diajak masuk ke dalam barisan, bukan sekadar menjadi penonton yang muncul ketika acara sudah dimulai dan pulang setelah konsumsi habis.
Pesan itu disampaikan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumatera Utara Timur Tumanggor saat membuka Pendidikan Kader Tingkat Madya Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) di Aula BPSDM Sumut, Jalan Ngalengko, Medan, Jumat (28/8/2026).
Menurut Timur, organisasi kepemudaan merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah. GAMKI, kata dia, selama ini telah menunjukkan kontribusi dalam berbagai bidang, mulai dari pembinaan generasi muda, kegiatan sosial kemasyarakatan, penguatan nilai-nilai kebangsaan hingga pelayanan kepada masyarakat.
“Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memandang organisasi kepemudaan sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah. Kehadiran GAMKI selama ini telah menunjukkan kontribusi dalam berbagai bidang,” kata Timur.
Pernyataan tersebut tentu membawa konsekuensi. Kalau sudah disebut “mitra strategis”, berarti perannya bukan sekadar datang ketika diundang pemerintah, duduk manis, foto bersama, lalu pulang membawa sertifikat.
Mitra strategis idealnya ikut berpikir, memberi kritik, menawarkan solusi, bahkan sesekali mengingatkan pemerintah jika ada kebijakan yang mulai keluar jalur. Sebab, pembangunan tanpa kritik berpotensi menjadi seperti mobil tanpa spion: tetap bisa berjalan, tetapi tidak tahu apa yang terjadi di belakang.
Timur mengatakan Sumatera Utara membutuhkan lebih banyak pemuda yang mampu menjadi jembatan persatuan, penggerak kolaborasi dan pelopor solusi di tengah perubahan zaman.
Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini juga semakin kompleks. Persoalan sosial, perkembangan teknologi, dinamika ekonomi hingga perubahan pola hidup masyarakat menuntut pemuda untuk adaptif dan berpikiran terbuka, namun tetap berpegang pada moral dan etika.
“Jadilah pribadi yang mampu menggerakkan lingkungan sekitar, menjadi contoh teladan, contoh kejujuran, disiplin, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama,” pesan Timur kepada para peserta pendidikan kader.
Pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi praktiknya tentu tidak sesederhana membuat spanduk bertuliskan “Pemuda Adalah Harapan Bangsa”.
Menjadi teladan membutuhkan konsistensi. Menjadi penggerak membutuhkan keberanian. Dan menjadi penyambung aspirasi masyarakat membutuhkan kemampuan mendengar, bukan hanya kemampuan berbicara di podium.
Timur juga mengajak kader GAMKI memperkuat semangat persaudaraan, menjaga kerukunan antarumat beragama serta memperkokoh persatuan.
Menurutnya, Sumatera Utara harus dibangun sebagai rumah bersama yang aman, damai, maju dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk tumbuh, berkembang serta berkarya.
Jangan Jadi Batu Sandungan
Sementara itu, Ketua DPD GAMKI Sumut Swangro Lumbanbatu menegaskan komitmen organisasinya untuk terus mendukung program pemerintah, khususnya Pemprov Sumut.
Namun dukungan tersebut, menurut Swangro, harus dibarengi dengan peran kader sebagai penyambung aspirasi masyarakat sekaligus penjaga suasana kondusif di daerah.
“Kami GAMKI Sumut akan terus mendukung Pemprov Sumut. Kami siap mengawal program pemerintah. Kita harus jadi penyambung lidah rakyat dan penyejuk, jangan jadi batu sandungan di daerah masing-masing. Ini harus kita laksanakan, GAMKI terus jadi mitra strategis,” ujar Swangro.
Kalimat “jangan jadi batu sandungan” ini mungkin justru menjadi salah satu pesan paling menarik dari forum tersebut.
Sebab, organisasi kepemudaan memang diharapkan menjadi bagian dari solusi. Tetapi menjadi mitra pemerintah bukan berarti harus selalu mengatakan “iya” terhadap semua kebijakan.
Justru mitra yang baik adalah mereka yang mampu mengatakan “iya” ketika kebijakan memang baik, dan berani mengatakan “perlu diperbaiki” ketika menemukan persoalan di lapangan.
Dengan begitu, fungsi kontrol sosial tetap berjalan tanpa harus berubah menjadi permusuhan.
Pendidikan Kader Tingkat Madya GAMKI pun menjadi ruang penting untuk menyiapkan kader yang tidak hanya piawai berorganisasi, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan, kemampuan membaca persoalan publik dan keberanian mengambil peran dalam pembangunan.
Karena Sumatera Utara tidak kekurangan pemuda. Yang mungkin masih perlu diperbanyak adalah pemuda yang mau turun tangan ketika persoalan datang—bukan hanya turun tangan ketika kamera sudah menyala.
Pada akhirnya, menjadi “mitra strategis” pemerintah bukan soal seberapa sering organisasi tampil dalam acara resmi. Ukurannya justru terlihat dari seberapa jauh kader mampu hadir di tengah masyarakat, menyerap persoalan, menawarkan solusi dan ikut memastikan pembangunan benar-benar dirasakan warga.
Kalau itu bisa dilakukan, GAMKI bukan sekadar mitra strategis di atas kertas. Ia menjadi bagian dari mesin pembangunan Sumatera Utara—dengan catatan, mesinnya jangan cuma hidup saat seremoni.(***)






