Marsada Band Bikin Panggung Keong PRSU Berguncang, Teriakan “Ribaaakkk!” Langsung Jadi Aba-Aba Berjoget

Marsada Band Bikin Panggung Keong PRSU Berguncang, Teriakan “Ribaaakkk!” Langsung Jadi Aba-Aba Berjoget

MEDAN – Ada banyak cara mengumpulkan massa di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU). Ada yang lewat konser, ada yang lewat kuliner, ada pula yang karena hadiah. Tapi kalau Marsada Band sudah dipanggil naik panggung, cukup satu kata yang terdengar dari pembawa acara: “Ribaaakkkk…!”. Selebihnya, penonton tahu apa yang harus dilakukan.

Belum selesai nama Marsada Band disebut, ratusan orang langsung berlarian mendekati Panggung Keong, Jumat (24/7/2026). Bukan karena ada diskon, melainkan takut kehabisan posisi terbaik untuk menikmati grup musik Batak yang sudah lama menjadi langganan pengisi memori manis masyarakat Sumatera Utara.

Sekitar seribu penonton memadati area pertunjukan. Begitu intro Boan Ma Salendang terdengar, suasana langsung berubah. Yang tadinya duduk santai mendadak berdiri, yang sibuk memainkan ponsel mulai mengangkat tangan mengikuti irama. Sisanya? Sudah larut dalam joget tanpa perlu dikomando lagi.

Lagu demi lagu seperti Marmasak Sandiri, Aut Sura Boi Ma Nian, Mataniari Binsar, hingga Dos Do Nakkokna disambut nyanyian massal. Di depan panggung, batas antara penonton dan penyanyi seolah menghilang. Semua kompak bernyanyi, berjoget, bahkan ada yang lebih lantang dari pengeras suara.

Kalau ada yang mengatakan musik adalah bahasa universal, malam itu Marsada Band membuktikannya. Tak peduli usia, dari anak muda sampai orang tua, semua seperti memiliki “izin resmi” untuk bergoyang. Tidak ada yang sibuk menjaga gengsi, karena di depan panggung Marsada Band, gengsi memang biasanya pulang lebih dulu.

Namun, Malam Seni Budaya Kabupaten Samosir bukan hanya soal konser. Mengusung tema “Jantung Peradaban Batak”, acara diawali dengan perjalanan sejarah terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir melalui narasi serta visual letusan Gunung Toba sekitar 74 ribu tahun silam. Sebuah pengingat bahwa alam pernah menciptakan mahakarya yang kini menjadi kebanggaan Sumatera Utara.

Nuansa kemudian berubah lebih khidmat saat Tonggo dan Tortor Pangurason ditampilkan. Ritual penyucian dalam tradisi Batak itu diperagakan menggunakan percikan air jeruk purut dan beras sipir ni tondi, menghadirkan suasana yang sarat makna budaya.

Penonton juga disuguhi Tortor Rudang Hangoluan dan tari kreasi Marsiadapari hasil kolaborasi Sanggar Seni Angel Elkanean bersama Sanggar Seni Jolo New Samosir. Tidak berhenti di situ, kelompok pemain taganing yang masih duduk di bangku sekolah dasar berhasil mencuri perhatian. Tepuk tangan panjang menjadi bukti bahwa warisan budaya masih menemukan generasi penerusnya.

Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom, memilih menikmati acara tanpa pidato panjang. Ia membaur bersama masyarakat, menyaksikan seluruh pertunjukan, bahkan sesekali ikut bergoyang mengikuti irama Marsada Band. Mungkin memang benar, ada momen ketika musik lebih efektif menyatukan orang daripada deretan kalimat di atas podium.

Bagi Indah Situmorang, salah satu penari yang tampil, Malam Seni Budaya Samosir bukan sekadar agenda tahunan.

“Saya sudah lima kali ikut, sejak masih SMA sampai sekarang sudah lulus kuliah. Setiap tahun selalu ada tema baru, teman baru, pengalaman baru, dan kesempatan memperkenalkan budaya Samosir kepada masyarakat,” tuturnya.

Panitia juga menambah kemeriahan dengan kuis berhadiah voucher menginap di hotel-hotel di Samosir serta suvenir dari Bank Sumut. Beberapa pengunjung yang beruntung mengaku semakin tertarik berlibur ke Samosir setelah mengetahui destinasi wisatanya indah, aman, dan ramah di kantong.

Malam itu memberikan satu pelajaran sederhana. Budaya tidak akan pernah kalah bersaing dengan hiburan modern jika dikemas dengan hati. Ketika musik tradisional dipadukan dengan aransemen kekinian, ketika tortor bertemu cahaya panggung, dan ketika taganing dimainkan anak-anak yang penuh semangat, budaya bukan lagi sekadar warisan yang dikenang. Ia hidup, menari, bernyanyi, dan membuat ribuan orang rela berdiri berjam-jam hanya untuk ikut meneriakkan satu kata yang sudah menjadi ciri khas malam itu:

“Ribaaakkk…!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *