Uis Karo Naik Kelas: Airin Rico Waas Resmikan Gallery Torose, Tenun Tradisi Masuk Panggung Fesyen Modern

Uis Karo Naik Kelas: Airin Rico Waas Resmikan Gallery Torose, Tenun Tradisi Masuk Panggung Fesyen Modern

MEDAN  — Kain tradisional biasanya akrab dengan acara adat, upacara, atau tersimpan rapi sebagai warisan keluarga. Namun di tangan kreator yang mau berinovasi, Uis Karo tampaknya punya cita-cita lain: turun dari lemari, naik ke panggung fesyen, lalu berjalan-jalan mengenalkan identitas Karo ke publik yang lebih luas.

Semangat itulah yang terlihat saat Ketua Dekranasda Kota Medan, Ny. Airin Rico Waas, meresmikan Gallery Torose di Kompleks Ruko Citra Garden, Sabtu (19/9/2026).

Peresmian tersebut bukan sekadar membuka pintu sebuah galeri baru. Gallery Torose membawa misi mempertemukan kekayaan budaya Karo dengan selera fesyen masa kini.

Suasana peresmian pun semakin semarak ketika sejumlah model tampil membawakan koleksi bernuansa etnik. Salah satunya koleksi Torose X Ethnic by Irma Siregar, yang memadukan kain tenun tradisional Karo atau Uis Karo dengan desain modern.

Kain yang selama ini lekat dengan identitas adat itu tampil dengan wajah yang lebih dinamis. Motif dan karakter tradisional tetap dipertahankan, sementara desainnya dibuat lebih dekat dengan kebutuhan fesyen kekinian.

Ini menjadi salah satu cara agar kain tradisional tidak hanya dikenang karena sejarahnya, tetapi juga dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sambutannya, Airin Rico Waas memberikan apresiasi terhadap kehadiran Gallery Torose. Menurutnya, kehadiran galeri tersebut dapat menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya lokal.

“Budaya akan tetap hidup kalau tidak hanya disimpan sebagai warisan, tetapi juga digunakan, dikembangkan, dan diperkenalkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya berharap kain Uis Karo semakin dikenal dan semakin banyak dipakai oleh semua kalangan, bukan hanya dalam kegiatan adat, tetapi juga dalam berbagai kesempatan,” ujar Airin Rico Waas.

Pernyataan itu menyentuh persoalan klasik pelestarian budaya: warisan yang terlalu lama hanya disimpan berisiko menjadi benda museum dalam kehidupan modern.

Karena itu, ketika Uis Karo mulai hadir dalam rancangan busana kontemporer, ada upaya untuk membuat tradisi tetap berjalan mengikuti zaman tanpa harus kehilangan jejak asal-usulnya.

Airin juga menegaskan bahwa mengenakan kain tradisional bukan sekadar urusan penampilan.

Menurutnya, seseorang yang memakai kain tradisional pada dasarnya turut membawa narasi, nilai-nilai, dan identitas sejarah yang terkandung di dalam kain tersebut.

Pandangan itu sekaligus menjadi ajakan agar masyarakat lebih bangga mengenakan wastra Nusantara, termasuk Uis Karo.

Apalagi, produk-produk Torose disebut telah mengantongi perlindungan Hak Cipta dan Hak Desain Industri. Perlindungan tersebut menjadi bagian penting ketika karya tradisional dikembangkan menjadi produk kreatif modern.

“Ini membuktikan bahwa karya berbasis tradisi mampu beradaptasi dan berinovasi di era modern tanpa kehilangan akar budayanya,” tambahnya.

Di tengah industri fesyen yang bergerak cepat, inovasi semacam itu menjadi tantangan tersendiri bagi kain tradisional. Sebab masyarakat modern tidak hanya mencari cerita dan nilai budaya, tetapi juga desain yang nyaman, relevan, dan dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.

Uis Karo pun menghadapi tantangan yang sama. Ia tidak cukup hanya disebut sebagai warisan budaya. Ia juga perlu hadir sebagai produk yang hidup, digunakan, dan memiliki nilai ekonomi bagi para pelaku industri kreatif.

Gallery Torose kemudian hadir di titik tersebut: menjadikan kekayaan budaya Karo sebagai bagian dari industri fesyen tanpa mencabut identitas tradisionalnya.

Bagi Airin, pelestarian budaya juga tidak boleh berhenti pada kain.

Ia mengingatkan bahwa budaya harus dirawat secara menyeluruh, mulai dari kain, musik, bahasa, hingga adat istiadat. Semua unsur tersebut menjadi bagian dari identitas yang perlu dikenalkan kepada generasi berikutnya.

“Selamat kepada keluarga besar Torose atas lokasi barunya. Semoga tempat ini membawa semangat dan rezeki yang baru, serta semakin banyak masyarakat yang mencintai tenun Karo. Kemajuan usaha akan terasa lebih bermakna jika berjalan beriringan dengan pelestarian budaya,” tutup Airin Rico Waas.

Peresmian Gallery Torose akhirnya bukan hanya tentang sebuah toko atau galeri baru. Ia menjadi gambaran bagaimana tradisi mencoba mencari ruang di tengah perubahan selera masyarakat.

Sebab budaya yang ingin terus hidup memang tidak cukup hanya dipajang, difoto, lalu diberi keterangan “warisan leluhur”.

Ia harus dipakai.

Ia harus dikembangkan.

Dan, kalau memungkinkan, ia juga harus mampu berjalan seirama dengan zaman—tanpa lupa dari mana ia berasal.

Uis Karo kini mendapat panggung baru. Bukan untuk meninggalkan adat, melainkan membawa identitas Karo melangkah lebih jauh melalui dunia fesyen modern.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *