matabangsa.com – Bekasi: Pagi itu, Tri Adhianto memilih cara yang cukup “Instagramable” untuk memantau kebijakan Work From Home (WFH): bersepeda dari rumah ke kantor. Sebuah simbol kuat bahwa pemimpin turun langsung ke lapangan—meski lapangannya kali ini relatif sepi, karena sebagian ASN justru sedang bekerja, dari rumah.
Di tengah semangat efisiensi energi, kayuhan sepeda sang wali kota terasa seperti pesan moral: hemat listrik, hemat BBM, dan kalau bisa, hemat juga drama birokrasi. Sebab di hari Jumat, kantor tak lagi seramai biasanya. Sebagian kursi kosong, sebagian layar komputer gelap, tapi optimisme tetap menyala—tentu dengan daya listrik seminimal mungkin.
Kebijakan WFH yang kini rutin setiap Jumat ini memang terdengar ideal. ASN bisa bekerja lebih fleksibel, kemacetan berkurang, dan kantor bisa “bernapas” dari beban listrik. Bahkan, menurut data Pemerintah Kota Bekasi, penghematan mencapai Rp100 hingga Rp120 juta. Angka yang cukup untuk membuat anggaran tersenyum—meski belum tentu semua warga ikut tersenyum saat mengurus layanan.
Tri memastikan semuanya tetap terpantau lewat sistem digital. Sebuah solusi modern untuk masalah klasik: bagaimana memastikan orang tetap bekerja saat tidak terlihat bekerja. Di sinilah teknologi berperan—menjadi “mata” yang tidak pernah lelah, meski kadang tetap kalah oleh sinyal yang tiba-tiba hilang.
Menariknya, pengawasan tetap dilakukan secara langsung. Sang wali kota tetap datang ke kantor, bersepeda pula. Sebuah kontras yang manis: pemimpin hadir fisik, pegawai hadir virtual. Kolaborasi hybrid yang mungkin akan jadi bahan studi manajemen di masa depan.
Tak berhenti di situ, Jumat juga dijadikan hari transportasi ramah lingkungan. ASN didorong naik sepeda, kendaraan listrik, atau transportasi umum. Sebuah ajakan yang mulia, walau diam-diam mungkin ada yang bertanya: “Kalau WFH, naik sepeda ke mana?”
Namun di balik semua itu, ada upaya serius membentuk budaya kerja baru—lebih adaptif, lebih digital, dan tentu saja lebih hemat. Hemat listrik, hemat bahan bakar, bahkan mungkin hemat interaksi langsung yang kadang terlalu jujur.
Satirenya ada di sini: ketika kantor mulai sepi demi efisiensi, justru simbol kehadiran diperkuat lewat aksi gowes seorang wali kota. Seolah ingin berkata, “Meski kalian di rumah, kantor ini tetap hidup… setidaknya oleh saya dan beberapa lampu yang belum dimatikan.”
Pada akhirnya, publik tidak terlalu mempermasalahkan ASN bekerja dari mana. Yang penting sederhana: urusan selesai, layanan cepat, dan tidak perlu bolak-balik hanya untuk menemukan bahwa petugasnya sedang “online, tapi tidak available.”
Dan jika semua ini berhasil, mungkin suatu hari nanti istilah WFH akan benar-benar menemukan makna barunya: Work From Home, Service From Heart. (***)






