Menu Sehat Harus Enak dan Instagramable: Bekasi Bikin Lomba, Anak-anak Siap Jadi Juri Rasa

Bekasi9 Dilihat

CFD di Plaza Patriot Chandrabhaga kali ini bukan cuma soal lari dan keringat, tapi juga soal menu sehat yang harus lolos dua ujian: gizi seimbang dan selera anak zaman now. Pemerintah Kota Bekasi menggelar lomba menu sehat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang secara tidak langsung menantang satu hal penting—bisakah makanan sehat bersaing dengan jajanan viral?

Di tengah semangat itu, hadir Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang tampak serius tapi santai, seolah ingin memastikan bahwa brokoli bisa naik kasta jadi makanan favorit, bukan sekadar pelengkap yang selalu disingkirkan ke pinggir piring.

Program MBG sendiri mengusung konsep klasik yang legendaris: “4 sehat 5 sempurna.” Sebuah prinsip yang sudah diajarkan sejak kecil, tapi dalam praktiknya sering kalah oleh “5 gorengan 1 es teh manis.” Kali ini, pemerintah mencoba mengembalikan kejayaan konsep tersebut—tentu dengan sedikit sentuhan kekinian.

Tri menegaskan bahwa isu gizi bukan hal sepele. Masih banyak anak mengalami kekurangan gizi hingga stunting, yang artinya masalah ini bukan cuma urusan dapur, tapi juga masa depan. Bahkan, intervensi disebut perlu dimulai sejak pra-nikah—sebuah pengingat halus bahwa persiapan hidup sehat itu panjang, tidak instan seperti mi cup.

Sebelum lomba dimulai, Tri bersama istri, Wiwiek Hargono Tri Adhianto, ikut senam bersama pelajar SMP di area CFD. Momen ini memperlihatkan kombinasi ideal: olahraga dulu, baru bicara makanan. Walau, bagi sebagian orang, urutannya tetap: foto dulu, baru apa saja boleh.

Menariknya, Tri juga berdialog langsung dengan siswa dari lima sekolah soal program MBG. Jawaban mereka cukup positif—program ini membantu dan menyenangkan. Dan kalau anak-anak sudah bilang “enak,” itu artinya tim dapur berhasil melewati ujian paling jujur di dunia: lidah anak sekolah.

Namun Tri memberi catatan penting: makanan sehat tidak boleh hanya fokus pada “kenyang.” Rasa tetap nomor satu. Karena, sejujur apapun kampanye gizi, kalau rasanya hambar, anak-anak punya kemampuan luar biasa untuk… tidak menghabiskannya.

“Penyajian juga harus kreatif,” tambahnya. Ini mungkin tantangan terbesar: membuat sayur terlihat menarik tanpa harus menyamar jadi ayam goreng. Dunia kuliner sekolah kini dituntut bukan hanya sehat, tapi juga “eye-catching”—karena di era sekarang, makanan juga harus siap difoto sebelum dimakan.

Melalui lomba ini, diharapkan lahir inovasi menu sehat yang benar-benar disukai anak-anak. Bukan sekadar memenuhi standar gizi di atas kertas, tapi juga lolos uji realitas di lapangan: dimakan habis tanpa drama.

Akhirnya, Bekasi mencoba membuktikan bahwa masa depan generasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka pelajari, tapi juga apa yang mereka makan. Dan kalau bisa sehat, enak, sekaligus menarik untuk difoto—mungkin kali ini, sayur punya шанс untuk jadi bintang utama di piring.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *