Kualanamu Masuk Tiga Besar Pintu Wisatawan Asing, Sumut Jangan Keburu Mabuk Ranking

Ekonomi, Nasional8 Dilihat

Data kunjungan wisatawan mancanegara awal 2026 menunjukkan Bandar Udara Internasional Kualanamu berhasil masuk jajaran tiga besar pintu udara utama Indonesia.

Tetapi jangan salah paham dulu.

Jaraknya masih sangat jauh dari dua raksasa lama:
Bandar Udara Internasional Ngurah Rai dan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

Pada Januari 2026: Ngurah Rai menerima 500.121 wisatawan asing. Soekarno-Hatta 212.826 wisatawan. Sementara Kualanamu baru 22.421.

Februari 2026: Ngurah Rai 486.053. Soekarno-Hatta 205.165. Kualanamu 24.710.

Artinya apa?

Artinya Bali masih seperti magnet pariwisata yang nyaris tak tersentuh daerah lain. Bahkan jumlah turis asing yang masuk lewat Ngurah Rai hampir 20 kali lipat dibanding Kualanamu.

Sementara Soekarno-Hatta tetap menjadi gerbang utama Indonesia yang sibuk, modern, dan penuh hiruk-pikuk global.

Lalu Kualanamu?
Masuk tiga besar memang terdengar membanggakan. Tetapi kalau dilihat lebih dekat, posisi itu juga menunjukkan betapa timpangnya pembangunan pariwisata Indonesia.

Karena setelah Bali dan Jakarta, jurangnya langsung curam.

Dan Sumatera Utara sekarang seperti siswa ranking tiga yang dipuji naik kelas, padahal dua ranking di atasnya masih lari jauh di depan.

Pemerintah daerah tentu akan sibuk merayakan angka ini. Slide presentasi akan dipoles. Caption optimistis akan bertebaran. Kata “potensi besar” kembali diulang seperti mantra tahunan.

Tetapi wisatawan asing tidak datang hanya untuk menghitung ranking bandara.

Mereka datang untuk merasakan kualitas sebuah daerah.

Dan di situlah Sumut masih menyimpan terlalu banyak pekerjaan rumah.

Bandara Kualanamu memang megah. Tetapi keluar sedikit saja dari area bandara, wisatawan bisa langsung bertemu jalan rusak, transportasi membingungkan, kawasan kumuh, pungli kecil-kecilan, dan pelayanan yang kadang masih terasa seperti sedang melayani beban, bukan tamu.

Sementara Danau Toba terus dijual sebagai destinasi super prioritas, persoalan dasar seperti kebersihan, tata ruang, hingga konsistensi pelayanan masih sering jadi keluhan klasik.

Ironisnya, Indonesia sangat suka membangun gerbang megah untuk menyambut wisatawan, tetapi lupa memperbaiki isi rumahnya.

Bandara modern dibangun.
Festival dibuat meriah.
Influencer diundang.
Video promosi dipoles sinematik.

Tetapi pengalaman wisatawan di lapangan sering tetap bergantung pada keberuntungan.

Kalau beruntung, mereka pulang membawa cerita indah.
Kalau tidak, mereka pulang membawa kesan bahwa Indonesia kaya potensi tetapi miskin konsistensi.

Dan itulah masalah terbesar pariwisata negeri ini: terlalu sibuk mengejar angka kunjungan, terlalu lambat membangun kualitas yang benar-benar membuat wisatawan ingin kembali tanpa perlu dibujuk promosi besar-besaran.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *