Jumat Barokah: Ketika Wartawan dan Polisi Terlalu Mesra untuk Sekadar Disebut Mitra

Medan10 Dilihat
Jumat Barokah: Ketika Wartawan dan Polisi Terlalu Mesra untuk Sekadar Disebut Mitra

Di sebuah lorong di Kota Medan, Jumat kembali dipenuhi aroma kopi, nasi kotak, dan kalimat-kalimat suci bernama “sinergi”. Sekretariat Pewarta Polrestabes Medan mendadak berubah menjadi ruang penghangat hubungan yang, entah sejak kapan, terasa lebih mirip reuni keluarga dibanding relasi antara pengawas dan yang diawasi.

Acara itu diberi nama “Jumat Barokah”. Nama yang teduh. Sejuk. Religius. Sangat cocok untuk membungkus kenyataan bahwa sebagian media hari ini tampaknya lebih sibuk menjaga perasaan aparat daripada menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan.

Doa bersama digelar. Diskusi santai berlangsung. Wartawan dan polisi duduk berdampingan membicarakan “informasi akurat”, “ketertiban masyarakat”, dan “kolaborasi positif”. Semua terdengar indah. Begitu indah sampai orang lupa bahwa tugas utama pers bukan menjadi humas tambahan institusi negara.

Di negeri yang demokrasi medianya makin sesak oleh amplop, kedekatan seperti ini sering dipasarkan sebagai “sinergitas”. Padahal publik mungkin lebih mengenalnya sebagai hubungan yang terlalu nyaman untuk menghasilkan kritik yang tajam.

Ketua Pewarta Polrestabes Medan, Chairum Lubis, menyebut kegiatan ini sebagai upaya menjaga persaudaraan dan kepedulian sesama. Tentu saja tidak ada yang salah dengan persaudaraan. Yang mulai bermasalah adalah ketika persaudaraan itu perlahan menggerus keberanian bertanya, mengikis daya gigit berita, lalu mengganti fungsi wartawan dari pengontrol kekuasaan menjadi penjaga citra institusi.

Karena sejarah menunjukkan, semakin akrab wartawan dengan kekuasaan, biasanya semakin sunyi kritik di halaman berita.

Tidak heran jika publik kini sering kesulitan membedakan mana produk jurnalistik, mana siaran ucapan terima kasih berkedok berita. Semua penuh kalimat manis: “harmonis”, “bersinergi”, “mendukung keamanan”, “menjaga kondusivitas”. Nyaris tak ada ruang untuk kata-kata seperti “mengkritik”, “mengawasi”, atau “mengungkap penyimpangan”.

Lucunya, hubungan semacam ini selalu dibungkus atas nama masyarakat. Katanya demi informasi yang akurat. Demi stabilitas. Demi pelayanan publik. Padahal rakyat juga butuh media yang berani membuat pejabat gelisah, bukan media yang sibuk memastikan pejabat nyaman saat difoto bersama.

Suasana kekeluargaan memang terasa hangat. Wartawan saling berbagi cerita dengan aparat. Tertawa bersama. Berdiskusi ringan. Semua tampak damai. Saking damainya, mungkin tak ada lagi yang tega menulis tajuk tajam soal penyalahgunaan wewenang, kekerasan aparat, atau kasus yang mandek di meja penyidik.

Dan di situlah satire ini menemukan rumahnya: ketika pers terlalu sibuk menjaga hubungan baik, demokrasi diam-diam kehilangan salah satu giginya.

Jumat Barokah akhirnya bukan cuma soal doa dan kebersamaan. Ia menjadi simbol zaman, ketika sebagian media lokal perlahan berubah dari “watchdog” menjadi “welcome dog” — menggonggong pada lawan kekuasaan, lalu mengibas ekor di hadapan sumber berita yang punya seragam dan jabatan.

Mungkin benar kegiatan itu membawa keberkahan. Tapi pertanyaannya: keberkahan untuk publik, atau kenyamanan untuk lingkaran yang saling membutuhkan?(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *