Gebyar Pendidikan Meriah, Tapi Jangan Sampai Prestasi Siswa Menutupi Pekerjaan Rumah Pemko Medan

Gebyar Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan 2026 berlangsung meriah. Ada parade budaya, penghargaan siswa berprestasi, deklarasi Sekolah Ramah Anak, hingga peluncuran inovasi pendidikan. Panggung penuh warna, tepuk tangan bergema, dan optimisme mengalir dari podium.

Namun pendidikan tidak pernah selesai di atas panggung.

Wali Kota Medan Rico Waas menyebut anak-anak Medan memiliki mental juara dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Kalimat itu tentu membanggakan. Tetapi kebanggaan terhadap prestasi siswa tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menutup mata terhadap persoalan pendidikan yang masih mengintai di balik ruang-ruang kelas.

Prestasi 32 siswa yang meraih nilai sempurna memang layak diapresiasi. Namun keberhasilan puluhan anak tidak otomatis menggambarkan kondisi ribuan siswa lainnya. Pemerintah seharusnya lebih sibuk memastikan tidak ada sekolah yang tertinggal daripada sekadar merayakan sekolah yang sudah unggul.

Pendidikan bukan hanya soal nilai ujian. Pendidikan juga tentang ruang kelas yang layak, toilet yang bersih, guru yang cukup, fasilitas belajar yang memadai, keamanan peserta didik, hingga kesempatan yang sama bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh pendidikan berkualitas.

Deklarasi Sekolah Ramah Anak juga terdengar sangat baik. Tetapi ramah anak tidak lahir dari spanduk dan penandatanganan komitmen. Ramah anak dibuktikan ketika praktik perundungan benar-benar ditangani, kekerasan di lingkungan sekolah dicegah, pungutan liar diberantas, dan setiap anak merasa aman untuk belajar tanpa rasa takut.

Pemko Medan juga berbicara tentang inovasi pendidikan. Pertanyaannya sederhana: apakah inovasi itu benar-benar menyentuh ruang kelas atau hanya berhenti sebagai nama program? Sebab masyarakat sudah terlalu sering mendengar kata “inovasi”, tetapi masih menemukan sekolah yang fasilitasnya jauh dari kata ideal.

Guru pun mendapat apresiasi sebagai pahlawan pendidikan. Itu pantas. Namun penghargaan kepada guru seharusnya tidak berhenti pada ucapan terima kasih dalam sebuah seremoni. Guru membutuhkan pelatihan yang berkualitas, dukungan fasilitas mengajar, kepastian karier, dan lingkungan kerja yang memungkinkan mereka fokus mendidik, bukan sibuk mengurus administrasi yang menumpuk.

Parade budaya yang melibatkan seribu pelajar juga menjadi simbol keberagaman Kota Medan. Tetapi menjaga kebudayaan tidak cukup dilakukan melalui acara tahunan. Nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, dan karakter kebangsaan harus benar-benar hidup dalam proses pembelajaran sehari-hari.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak bisa diukur dari kemeriahan satu acara. Ia diukur dari berapa banyak anak yang tetap bersekolah, berapa banyak sekolah yang semakin berkualitas, dan berapa banyak lulusan yang benar-benar siap menghadapi tantangan kehidupan.

Pada akhirnya, Gebyar Pendidikan adalah momentum yang baik. Namun jangan sampai gemerlap panggung membuat pemerintah lupa bahwa pekerjaan terbesar justru dimulai setelah acara selesai. Ketika tenda dibongkar, panggung dibereskan, dan kamera dimatikan, masih ada ribuan siswa yang setiap pagi berharap memperoleh pendidikan yang benar-benar berkualitas.

Karena masa depan pendidikan Kota Medan tidak ditentukan oleh seberapa meriah perayaannya, melainkan oleh seberapa serius pemerintah menyelesaikan persoalan yang selama ini masih menjadi pekerjaan rumah.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *