Ground Breaking PSEL, Wali Kota Bekasi: Bantargebang Jangan Lagi Sekadar Tempat Sampah, Harus Jadi Kawasan Inovasi Lingkungan

Bekasi24 Dilihat

Ground Breaking PSEL, Wali Kota Bekasi: Bantargebang Jangan Lagi Sekadar Tempat Sampah, Harus Jadi Kawasan Inovasi Lingkungan

Bekasi — Selama bertahun-tahun, nama Bantargebang lebih akrab dengan satu perkara: sampah. Jutaan kantong, kardus, sisa makanan, dan berbagai jenis buangan manusia seolah punya satu alamat tujuan yang sama.

Kini Pemerintah Kota Bekasi ingin mengubah cerita tersebut.

Melalui ground breaking pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Bantargebang, Pemerintah Kota Bekasi mencoba membawa sampah naik kelas, Rabu 26 Agustus 2026. Bukan lagi sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang bisa diolah, menghasilkan energi, sekaligus membuka peluang ekonomi.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyebut momentum tersebut bukan hanya seremoni dimulainya pembangunan sebuah fasilitas pengolahan sampah. Lebih dari itu, ia ingin menjadikannya sebagai titik awal perubahan wajah Bantargebang.

“Bantargebang sudah lama menjadi tempat sampah. Hari ini kita mulai menjadikannya tempat lahirnya energi. Harapan ke depan, Bantargebang ini akan menjadi pusat inovasi lingkungan dan kawasan industri hijau yang tentunya membawa peningkatan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Tri.

Kalau selama ini Bantargebang dikenal sebagai kawasan tempat sampah berakhir, maka cita-cita baru yang dibawa Pemerintah Kota Bekasi cukup ambisius: sampah berakhir di sana, tetapi persoalannya tidak boleh ikut menetap.

1.500 Ton Masuk Mesin, 300 Ton Masih Jadi PR

PSEL yang dibangun tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.500 ton sampah per hari.

Angka itu tentu terdengar besar. Namun Tri mengingatkan agar masyarakat tidak buru-buru menganggap persoalan sampah Bekasi sudah tamat hanya karena mesin pengolah sampah mulai dibangun.

Masih ada sekitar 300 ton sampah per hari yang menjadi pekerjaan rumah.

“PSEL ini kapasitasnya 1.500 ton per hari. Artinya masih ada PR sekitar 300 ton setiap harinya. Ini yang harus kita selesaikan bersama, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” tegasnya.

Di sinilah persoalan menjadi menarik.

Teknologi boleh canggih, proyek boleh besar, dan groundbreaking boleh meriah. Tetapi sampah tetap memiliki kebiasaan buruk: diproduksi setiap hari.

Kalau masyarakat terus menghasilkan sampah tanpa mengurangi dan memilahnya, maka mesin secanggih apa pun pada akhirnya akan berhadapan dengan arus sampah yang tidak mengenal kata libur.

Karena itu, pembangunan PSEL tidak boleh dijadikan alasan untuk mempertahankan kebiasaan lama: produksi sampah sebanyak-banyaknya, lalu biarkan pemerintah yang mengurus sisanya.

Jangan Semua Diserahkan kepada Mesin

Tri menegaskan teknologi hanyalah salah satu bagian dari solusi.

Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tetap sangat bergantung pada kesadaran masyarakat. Rumah tangga, sekolah, perkantoran, pusat perbelanjaan, pelaku usaha, pedagang hingga lingkungan masyarakat harus ikut mengurangi timbulan sampah.

“Tapi teknologi saja tidak cukup. Sebagus apa pun teknologinya, pengelolaan sampah tidak akan berhasil tanpa kesadaran masyarakat. Karena itu, perubahan harus dimulai dari rumah: bagaimana kita mengurangi sampah, memilah dan membuangnya dengan benar,” katanya.

Pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi justru menjadi bagian tersulit.

Sebab memilah sampah di rumah membutuhkan kebiasaan. Dan kebiasaan, seperti kita tahu, sering kali lebih sulit diubah daripada membangun gedung.

Masyarakat diajak mulai memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya. Dengan begitu, sampah yang masuk ke sistem pengolahan dapat dikelola lebih efektif, sementara sebagian lainnya bisa dimanfaatkan kembali melalui berbagai skema pengelolaan dan ekonomi sirkular.

Bantargebang Naik Kelas?

Cita-cita Tri terhadap Bantargebang tidak berhenti pada pengurangan sampah.

Ia ingin kawasan tersebut berkembang menjadi pusat inovasi lingkungan sekaligus kawasan industri hijau yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dengan demikian, Bantargebang diharapkan mengalami transformasi citra: dari kawasan yang selama ini identik dengan gunungan sampah menjadi kawasan yang mengolah sampah, menghasilkan energi, menciptakan inovasi dan membuka peluang ekonomi.

Tentu saja, perubahan tersebut tidak bisa selesai hanya dengan satu proyek.

Kalau ingin Bantargebang benar-benar menjadi kawasan inovasi lingkungan, maka pembangunan PSEL harus berjalan beriringan dengan pengurangan sampah dari hulu, pemilahan, penguatan bank sampah, edukasi masyarakat, pengawasan dan pengelolaan lingkungan yang konsisten.

Sebab jangan sampai istilah “kawasan industri hijau” hanya berubah menjadi nama baru dengan masalah lama.

Groundbreaking adalah awal, bukan garis finis.

Sampah Bukan Sekadar Barang Buangan

Bagi Tri, pembangunan PSEL harus menjadi momentum untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.

Sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai barang yang harus segera disingkirkan dari halaman rumah. Sebagian dapat dipilah, dimanfaatkan kembali, didaur ulang, atau diolah menjadi sumber energi.

Di titik inilah Bantargebang diharapkan memiliki wajah baru.

“Bantargebang harus kita ubah. Dari tempat sampah menjadi tempat lahirnya energi baru, menjadi pusat inovasi lingkungan dan kawasan industri hijau. Tetapi semua itu hanya bisa terwujud kalau pemerintah, dunia usaha dan masyarakat bergerak bersama,” pungkas Tri.

Kalimat terakhir itu mungkin justru yang paling penting.

Karena urusan sampah bukan semata-mata urusan pemerintah.

Pemerintah bisa membangun fasilitas. Teknologi bisa mengolah ribuan ton sampah. Dunia usaha bisa berinvestasi. Tetapi kalau dari rumah masih berlaku prinsip “yang penting sudah keluar dari dapur”, maka persoalan sampah akan terus menemukan cara untuk kembali.

Bantargebang boleh disiapkan menjadi tempat lahirnya energi.

Tetapi perubahan sebenarnya harus dimulai dari tempat yang jauh lebih kecil: dari tempat sampah di rumah masing-masing.

Dan kalau itu berhasil, barulah Bantargebang tidak sekadar menjadi tempat di mana sampah berakhir, melainkan tempat di mana masalah sampah mulai diubah menjadi energi, inovasi, dan nilai ekonomi.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *