Air Tak Kenal Batas, Tapi Administrasi Harus Jelas
Ada kabar baik dari Bekasi. Setelah melewati perjalanan yang panjang, penuh rapat, tanda tangan, dan mungkin juga tumpukan map yang tebalnya hampir setara pipa distribusi, akhirnya urusan pengelolaan air minum di Kota Bekasi resmi berada di satu tangan.
Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Kabupaten Bekasi sepakat mengakhiri “hubungan jarak jauh” dalam urusan PDAM. Lewat penandatanganan Berita Acara Serah Terima Aset dan Wilayah Layanan Perumda Tirta Bhagasasi Cabang Kota (Poncol) dan Pondok Ungu kepada Perumda Air Minum Tirta Patriot, Senin (20/7), babak baru pelayanan air bersih resmi dimulai.
Kalau selama ini warga mungkin tidak peduli air yang mengalir berasal dari wilayah administrasi mana, yang penting kerannya dibuka airnya keluar. Bukan angin, apalagi alasan. Kini harapan itu sedikit lebih dekat menjadi kenyataan.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengingatkan bahwa proses ini bukan pekerjaan semalam. Bahkan bukan pula hasil satu periode pemerintahan. Ini adalah perjalanan panjang yang akhirnya menemukan muara. Tujuannya sederhana, pelayanan air minum menjadi lebih baik, bukan sekadar memindahkan stempel dari satu meja ke meja lainnya.
Yang menarik, setelah seluruh proses ini selesai, urusan operasional tidak lagi menjadi “drama lintas pemerintah daerah”. Kini hubungan yang tersisa adalah hubungan antar-BUMD. Artinya, kalau nanti ada keputusan strategis, tidak perlu lagi menunggu dua kepala daerah selesai membaca berkas yang sama. Birokrasi dipangkas, pelayanan diharapkan melaju lebih kencang.
Ibarat estafet, baton sudah berpindah tangan. Tinggal bagaimana pelarinya bisa berlari lebih cepat tanpa menjatuhkan tongkatnya.
Sebenarnya proses ini juga dilakukan bertahap. Mulai dari Wisma Asri, Harapan Baru, Puri Gading, kemudian Rawa Tembaga, Rawalumbu, Setia Mekar, hingga akhirnya Poncol dan Pondok Ungu menjadi penutup rangkaian pengalihan. Dengan selesainya sesi keempat ini, seluruh layanan air minum di wilayah Kota Bekasi kini resmi dikelola Perumda Air Minum Tirta Patriot.
Plt. Bupati Bekasi pun sepakat bahwa air minum bukan sekadar urusan pipa dan meteran, tetapi soal bagaimana BUMD bisa semakin profesional dan sehat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Patriot, Ali Iman Faryadi, mengatakan pekerjaan sebenarnya justru baru dimulai. Dalam satu hingga dua bulan ke depan, fokus diarahkan pada penyatuan sistem, administrasi, hingga peningkatan kualitas pelayanan agar seluruh pelanggan merasakan standar layanan yang sama.
Tentu masyarakat berharap, setelah semua aset berpindah, jangan sampai keluhan pelanggan ikut berpindah tanpa penyelesaian. Sebab bagi warga, indikator keberhasilan bukan seberapa rapi dokumen serah terimanya, melainkan seberapa lancar air mengalir setiap pagi.
Pada akhirnya, air memang tidak pernah memilih mengalir ke kota atau kabupaten. Yang membedakan hanyalah siapa yang bertanggung jawab memastikan setiap tetesnya sampai ke rumah warga. Kini tanggung jawab itu sudah jelas. Tinggal dibuktikan bahwa perubahan administrasi benar-benar berujung pada pelayanan yang lebih baik, bukan sekadar pergantian logo di kop surat.(***)







