Di Bawah Pohon, Pesan Karakter Lebih Teduh dari Sekadar Seremoni
Kalau biasanya acara resmi identik dengan panggung megah, kursi berjejer, dan tenda yang siap melawan terik matahari, suasana di SMAN 10 Bekasi justru berbeda. Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe memilih menikmati kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di bawah rindangnya pepohonan. Sederhana, tapi justru terasa akrab.
Di sana, para siswa baru menampilkan berbagai kreativitas. Tidak ada sekat antara pejabat dan pelajar. Yang ada hanyalah ruang untuk saling menyapa, mengenal, dan menikmati semangat generasi baru yang sebentar lagi akan memenuhi ruang-ruang kelas.
Dalam sambutannya, Harris Bobihoe mengingatkan bahwa MPLS bukan sekadar agenda mengenal ruang kelas, mencari kantin, atau menghafal letak toilet sekolah. Lebih dari itu, masa ini menjadi awal membangun karakter, persahabatan, dan rasa memiliki terhadap sekolah.
Pesan yang disampaikan pun cukup lengkap. Ia mengajak para siswa menjauhi narkoba, pornografi, tawuran, serta berbagai perilaku yang dinilai bertentangan dengan norma masyarakat dan agama. Menurutnya, menjadi pelajar bukan hanya soal mengejar nilai rapor, tetapi juga menjaga sikap dan karakter.
“Jadilah siswa yang memiliki karakter dan cerdas,” pesannya kepada para peserta didik.
Memang, setiap tahun pesan seperti ini hampir selalu terdengar saat MPLS. Bedanya, tantangan anak-anak sekarang juga semakin beragam. Dulu mungkin godaannya hanya bolos sekolah atau terlambat masuk kelas. Sekarang, satu gawai di tangan bisa membuka dunia yang luas—lengkap dengan peluang sekaligus jebakannya. Karena itu, bekal karakter menjadi sama pentingnya dengan pelajaran Matematika atau Bahasa Indonesia.
Harris juga berharap kreativitas yang ditampilkan para siswa tidak berhenti di panggung MPLS. Ia ingin semangat itu berkembang menjadi prestasi yang mampu membawa nama Kota Bekasi bersinar di tingkat yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, sekolah memang bukan hanya tempat mengejar angka-angka di rapor. Di sanalah anak-anak belajar menjadi manusia yang mampu berpikir, berkarya, berteman, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Kalau fondasi itu berhasil dibangun sejak hari pertama masuk sekolah, mungkin yang paling bangga nanti bukan hanya guru dan orang tua, tetapi juga Kota Bekasi yang kelak memanen hasil dari generasi mudanya.(***)







