Bobby Siapkan Dua “Hadiah” untuk UMSU: Beasiswa hingga Dukungan Kampus IV
MEDAN — Ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) mendapat kabar manis di hari pertama mereka memasuki dunia kampus. Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menyiapkan dua bentuk dukungan: kuota khusus beasiswa bagi mahasiswa UMSU serta dukungan terhadap pembangunan Kampus IV Terpadu UMSU.
Kabar tersebut disampaikan Bobby saat menghadiri kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Jalan Kapten Muchtar Basri, Medan, Senin (28/9/2026).
Di hadapan ribuan mahasiswa baru, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, para wakil menteri, anggota DPR RI, Kapolda Sumut, sejumlah kepala daerah, civitas akademika UMSU dan undangan lainnya, Bobby menyebut Pemprov Sumut akan memberikan kuota khusus beasiswa untuk mahasiswa UMSU.
“Di Provinsi Sumut banyak sekali paket untuk beasiswa. Dan kami juga akan meluncurkan beasiswa kepada mahasiswa UMSU. Jumlah mahasiswa baru sebanyak 6.027 orang, kami yakin banyak yang bisa kami berikan beasiswa sampai tamat,” ujar Bobby.
Kabar itu tentu terdengar menyenangkan bagi mahasiswa.
Apalagi biaya kuliah biasanya tidak mengenal istilah “sedikit”. Ia punya bakat alami untuk terus naik setiap semester.
Namun, yang menarik bukan hanya jumlah penerima beasiswa, melainkan perubahan mekanisme yang disampaikan Bobby.
Beasiswa Tak Lagi Sekadar Uang Masuk, tapi Sampai Lulus
Bobby mengatakan Pemprov Sumut mengubah mekanisme pemberian beasiswa agar diberikan secara tuntas.
Artinya, beasiswa tidak hanya diberikan kepada mahasiswa baru, tetapi diarahkan untuk menjamin keberlanjutan pendidikan hingga mahasiswa menyelesaikan kuliah.
Jika benar berjalan konsisten, perubahan tersebut cukup penting.
Sebab salah satu persoalan beasiswa adalah keberlanjutan. Mendapat bantuan pada awal kuliah tentu menyenangkan, tetapi mahasiswa tetap membutuhkan kepastian untuk semester berikutnya.
Beasiswa yang berhenti di tengah jalan bisa membuat mahasiswa kembali menghitung uang kuliah sambil menghitung berapa banyak doa yang harus dipanjatkan.
Bobby juga menyampaikan dukungan terhadap pembangunan Kampus IV Terpadu UMSU.
“Pak Wamen, setelah ini yang dibilang Pak Rektor tadi selesai. Jadi Pak Rektor ini ada hadiah tambahan selain yang harus selesai 2027. Kami akan memberikan kuota khusus bagi mahasiswa UMSU,” ucapnya.
Kampus IV dan Janji Pembangunan
UMSU saat ini tengah mengembangkan Kampus IV Terpadu di Desa Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang.
Kampus tersebut dirancang berdiri di atas lahan sekitar 25 hektare dan disiapkan sebagai pusat pendidikan modern yang terintegrasi.
Fasilitasnya direncanakan mencakup sarana olahraga hingga pusat penelitian lingkungan.
Pembangunan disebut telah menunjukkan progres signifikan dan ditargetkan sebagian mulai beroperasi pada Januari 2027.
Kampus baru tersebut juga diproyeksikan mendukung kebutuhan infrastruktur Sumut sebagai tuan rumah Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah pada 2027.
Dengan demikian, pembangunan Kampus IV bukan hanya soal menambah gedung perkuliahan.
Ada agenda pendidikan, penelitian, kegiatan kemahasiswaan hingga kebutuhan penyelenggaraan kegiatan besar Muhammadiyah yang harus ditopang.
Dan tentu saja, semakin besar kampusnya, semakin besar pula pertanyaan yang harus dijawab: siapa yang membiayai, bagaimana dukungannya, dan sejauh mana pemerintah akan terlibat?
6.027 Mahasiswa Baru, Kampus Makin Besar
Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd. menyebut jumlah mahasiswa baru tahun ini mencapai 6.027 orang.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 1.000 mahasiswa dibandingkan penerimaan tahun sebelumnya.
Dengan tambahan tersebut, total mahasiswa UMSU kini mencapai 29.617 orang.
UMSU juga mencatat adanya mahasiswa non-Muslim. Tahun ini terdapat 194 mahasiswa baru non-Muslim sehingga total mahasiswa non-Muslim mencapai 1.031 orang.
Menurut Akrim, angka tersebut menjadi bukti bahwa UMSU terbuka dan inklusif bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pendidikan.
“Ini membuktikan kampus yang terbuka dan inklusif pada siapa saja untuk belajar di UMSU,” katanya.
Selain mahasiswa dari dalam negeri, UMSU juga menerima mahasiswa asing.
Jumlah mahasiswa asing yang belajar di UMSU disebut telah mencapai 117 orang dari kawasan Asia dan Afrika.
Artinya, kampus tidak hanya sedang memperbesar jumlah mahasiswa, tetapi juga mencoba memperluas jangkauan internasional.
Tantangannya tentu bukan sekadar menerima mahasiswa.
Kampus yang besar harus mampu menyediakan pendidikan yang besar pula kualitasnya.
Jumlah mahasiswa boleh menjadi angka yang membanggakan dalam laporan tahunan. Namun, kualitas lulusan tetap menjadi ukuran yang akan dibawa pulang masyarakat.
Bobby Ingatkan Mahasiswa: Jangan Jadi Konsumen AI
Dalam kesempatan tersebut, Bobby juga berbicara tentang perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau AI.
Tema PKKMB UMSU tahun ini, “Satu Klik Sejuta Dampak”, dinilai relevan dengan perubahan teknologi.
Bobby mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti sebagai pengguna teknologi.
Mahasiswa didorong untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat menghasilkan karya, bahkan menjadi pencipta.
“Ini kampus yang tepat untuk adik-adik. Karena itu belajarlah yang baik dan benar. Dan yang paling penting juga adalah tetap berbakti kepada orangtua,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika AI mulai mampu mengerjakan banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan manusia.
Mahasiswa yang hanya menjadi konsumen teknologi berisiko menjadi penonton.
Sebaliknya, mahasiswa yang mampu memahami dan menciptakan teknologi memiliki peluang menjadi pemain.
Jangan sampai kuliah empat tahun, tetapi yang paling rajin berpikir justru aplikasi AI-nya.
Karena itu, pendidikan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami etika, kreativitas, riset dan dampaknya bagi masyarakat.
“Hadiah” Harus Berujung Manfaat
Dukungan Pemprov Sumut terhadap UMSU tentu menjadi kabar positif.
Beasiswa dapat membuka akses pendidikan bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi. Dukungan terhadap Kampus IV juga berpotensi memperkuat infrastruktur pendidikan tinggi di Sumut.
Namun, seperti biasa, setiap janji kebijakan akhirnya akan diuji oleh pelaksanaan.
Beasiswa harus benar-benar sampai kepada mahasiswa yang membutuhkan dan diberikan secara berkelanjutan hingga selesai sesuai skema yang dijanjikan.
Dukungan pembangunan kampus juga harus memiliki mekanisme yang jelas, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab publik tidak hanya membutuhkan berita tentang “hadiah”.
Publik ingin melihat hasilnya.
Pada akhirnya, mahasiswa tidak membutuhkan seremoni panjang.
Mereka membutuhkan biaya kuliah yang lebih ringan, fasilitas pendidikan yang layak, kualitas akademik yang kuat, akses penelitian, peluang kerja dan masa depan yang lebih jelas.
Kalau semua itu terwujud, dua “hadiah” Bobby untuk UMSU bukan lagi sekadar ucapan di hadapan ribuan mahasiswa.
Ia akan menjadi investasi pendidikan yang benar-benar terasa—bukan hanya tepuk tangan yang selesai ketika acara PKKMB bubar.(***)






