Dari Lomba HUT RI ke Bantuan Bencana: Solidaritas Pemko Medan Jangan Cuma di Lapangan Cadika

Medan35 Dilihat

Dari Lomba HUT RI ke Bantuan Bencana: Solidaritas Pemko Medan Jangan Cuma di Lapangan Cadika

Medan – Sabtu (22/8/2026), Lapangan Cadika Medan penuh dengan tawa, sorak-sorai, dan semangat kemerdekaan. Para pegawai Pemko Medan sibuk mengikuti berbagai lomba—ada yang tarik tambang, ada yang balap, ada yang bermain, dan mungkin ada yang baru sadar bahwa ternyata kemampuan olahraga tidak tercantum dalam SK pengangkatan.

Namun di tengah kemeriahan itu, ada satu hal yang lebih penting dari sekadar mengejar piala: solidaritas.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan bahwa kebersamaan bukan hanya soal kompak ketika lomba berlangsung, tetapi juga harus terlihat ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan.

Dan kalimat itu rupanya langsung dibuktikan.

Ketika angin puting beliung menerjang sembilan kecamatan di Kota Medan, dengan dampak cukup berat di Medan Johor dan Medan Amplas, Korpri Kota Medan bergerak menggalang bantuan secara spontan.

Hasilnya, terkumpul Rp50 juta untuk membantu warga terdampak bencana.

Ini menarik.

Biasanya dalam acara kemerdekaan yang diburu adalah piala. Kali ini ada juga yang memburu kebutuhan masyarakat.

Dari “siapa juara?” berubah menjadi “siapa yang membutuhkan bantuan?”

Dan kalau yang kedua ini menjadi kebiasaan, mungkin semangat kemerdekaan memang mulai menemukan bentuk yang lebih nyata.

Rico Waas berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga yang terdampak. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat sinergi dan saling membantu menghadapi berbagai persoalan kota.

Memang, bencana tidak pernah bertanya siapa yang punya jabatan.

Angin tidak mengenal kartu tanda pegawai.

Atap rumah yang terbang tidak peduli siapa yang memilih atau dipilih.

Ketika musibah datang, semua kembali menjadi warga yang membutuhkan pertolongan.

Karena itu, solidaritas sosial seharusnya tidak hanya muncul ketika kamera menyala dan acara sedang berlangsung.

Kalau di Taman Cadika para ASN bisa kompak menarik tambang, mestinya ketika bencana datang mereka juga bisa kompak menarik beban warga yang sedang kesusahan.

Itulah mungkin makna kemerdekaan yang paling sederhana: bukan hanya bebas merayakan, tetapi juga bebas untuk peduli.

Piala boleh dibawa pulang.

Foto lomba boleh masuk media sosial.

Tetapi Rp50 juta yang dikumpulkan untuk korban bencana punya cerita berbeda.

Ia mungkin tidak menghasilkan medali.

Namun bagi warga yang rumahnya rusak atau kehilangan sebagian harta benda, bantuan itu jauh lebih berarti daripada sebuah piala.

Jadi, kalau Semarak HUT RI ingin meninggalkan kesan, biarlah bukan hanya karena meriahnya lomba di Cadika.

Biarlah kemeriahannya juga terasa sampai ke rumah warga yang sedang tertimpa musibah.

Sebab pemerintah yang kompak bukan hanya terlihat ketika berdiri satu barisan saat upacara.

Pemerintah yang kompak adalah pemerintah yang tahu kapan waktunya tertawa bersama dan kapan waktunya turun tangan bersama.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *