Juara Pidato POV Wali Kota: Ketika ASN Belajar Jadi Rico Sehari

Medan34 Dilihat

Juara Pidato POV Wali Kota: Ketika ASN Belajar Jadi Rico Sehari

Medan – Taman Cadika Medan kembali menjadi panggung kreativitas ASN. Kali ini bukan lomba tarik tambang atau pukul bantal, melainkan Lomba Pidato POV Wali Kota Medan.

Sebanyak 26 peserta dari berbagai OPD dan wilayah berlomba menyampaikan pidato dengan gaya dan sudut pandang Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas. Hasilnya, Mhd. Ariq Luthfi Siregar dari Dinas Kominfo Medan berhasil meraih Juara II.

Juara I diraih Camat Medan Tuntungan Berani Perangin-angin, sementara Juara III diraih Alfredo Ebenezer Panjaitan dari Dinas Perhubungan.

Yang menarik, lomba ini bukan sekadar adu pintar bicara. Peserta ditantang memahami visi, misi, dan program Pemko Medan, lalu menyampaikannya seolah-olah sedang menjadi wali kota.

Jadi, untuk beberapa menit, ASN boleh merasakan bagaimana rasanya menjadi orang nomor satu di Balai Kota.

Mungkin juga merasakan beratnya mengatakan, “Kita akan terus meningkatkan…” dengan wajah penuh keyakinan.

Rico Waas yang hadir bersama Ketua TP PKK Kota Medan Airin Rico Waas bahkan ikut bercanda. Ia mengaku sebenarnya ingin ikut lomba pidato dan memperhatikan beberapa peserta yang berusaha menirukan gayanya.

“Terutama yang pakai kacamata,” katanya, disambut tawa.

Nah, ini bagian yang menarik.

Ternyata untuk menjadi Rico versi lomba, kacamata bisa menjadi properti penting. Tetapi tentu saja, kacamata saja tidak cukup. Harus ada intonasi, artikulasi, gestur, dan tentu saja kemampuan menyusun kalimat yang terdengar meyakinkan.

Kalau tidak, bisa-bisa bukan POV Wali Kota, tetapi POV pegawai yang sedang kena tugas mendadak.

Lomba ini memang punya sisi positif. ASN tidak hanya diminta bekerja dengan dokumen, tetapi juga harus mampu menyampaikan gagasan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.

Sebab program pemerintah sehebat apa pun akan percuma jika masyarakat tidak mengerti apa yang sedang dikerjakan pemerintah.

Di sinilah peran Dinas Kominfo menjadi penting. Juara II yang diraih Ariq Luthfi sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi memang tidak bisa dianggap sebagai pekerjaan sambilan.

Pesan pemerintah harus bisa diterjemahkan dari bahasa birokrasi menjadi bahasa manusia.

Bukan sekadar:

“Optimalisasi sinergitas dalam rangka akselerasi implementasi program.”

Masyarakat biasanya lebih membutuhkan kalimat sederhana:

“Ini programnya, ini manfaatnya, dan ini kapan selesai.”

Karena itu, lomba pidato POV Wali Kota boleh saja dianggap hiburan dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Tetapi ada pelajaran serius di baliknya: ASN harus bisa berbicara, bukan hanya bisa membuat surat.

Dan kalau sudah bisa berbicara dengan baik, semoga kemampuan itu tidak hanya dipakai saat lomba.

Gunakan juga ketika menjelaskan program kepada masyarakat.

Gunakan ketika menjawab kritik.

Gunakan ketika menyampaikan keberhasilan.

Dan yang paling penting, gunakan ketika ada masalah.

Sebab menjadi “Rico sehari” mungkin menyenangkan.

Tetapi menjadi ASN yang mampu menyampaikan pesan pemerintah dengan jujur, jelas, dan mudah dipahami masyarakat, itu jauh lebih penting.

Akhirnya, piala Juara II boleh dibawa pulang Dinas Kominfo.

Kacamata boleh dilepas.

Pidato boleh selesai.

Tetapi satu pekerjaan tetap menunggu:

bagaimana membuat komunikasi pemerintah tidak hanya terdengar bagus di atas panggung, tetapi juga terasa manfaatnya di tengah masyarakat.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *