Nasi Goreng, Pejabat, dan Api Kompor: Ketika Pemko Medan Lupa Sejenak Soal Rapat
Medan – Minggu (23/8/2026), Lapangan Taman Cadika Medan Johor mendadak berubah menjadi dapur besar. Bukan rapat koordinasi, bukan pembahasan anggaran, apalagi urusan surat-menyurat.
Kali ini para pejabat Pemko Medan harus berhadapan dengan wajan, spatula, bumbu, dan api kompor.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas turun langsung memasak nasi goreng bersama Wakil Wali Kota Zakiyuddin Harahap. Yang menarik, bagi Zakiyuddin, ini bukan sekadar lomba—ini disebutnya sebagai pertama kali dalam hidup memasak nasi goreng sendiri.
Sebuah pencapaian yang patut dicatat dalam sejarah birokrasi Medan.
Biasanya pejabat berurusan dengan disposisi dan dokumen. Kali ini yang harus didisposisikan adalah bawang, cabai, telur, dan nasi.
Keseruannya makin lengkap ketika para pimpinan OPD, termasuk Pj Sekda Erfin Fahrurrazi dan Kadis Kominfo Arrahmaan Pane, ikut berjibaku mengendalikan kompor. Ada yang menggunakan nanas, labu, dan berbagai bahan lain untuk membuat nasi gorengnya terlihat paling meyakinkan.
Di sini tampaknya berlaku prinsip baru:
Kalau program kerja harus inovatif, nasi goreng juga jangan biasa-biasa saja.
Rico Waas sendiri mengatakan lomba bukan sekadar mencari pemenang, tetapi mempererat kebersamaan. Ia bahkan mengingatkan para pejabat agar lebih sering memasak di rumah.
Pesan yang cukup menarik.
Sebab ternyata ada satu pelayanan publik yang selama ini mungkin terlupakan: pelayanan nasi goreng untuk keluarga sendiri.
Namun di balik candaan dan aroma nasi goreng, pesan kegiatan ini memang cukup serius. Semarak Kemerdekaan bukan hanya soal upacara dan pidato, tetapi juga kesempatan bagi jajaran Pemko Medan untuk membangun kekompakan di luar rutinitas kantor.
Zakiyuddin bahkan berharap kegiatan seperti ini ke depan melibatkan keluarga para jajaran OPD. Sebab kalau selama ini yang bertemu hanya pejabat dan pegawai dalam rapat, sesekali keluarga juga perlu saling mengenal.
Dan tentu ada manfaat lainnya.
Setelah sehari-hari sibuk mengurus kota, para pejabat akhirnya belajar bahwa mengurus nasi goreng pun tidak semudah membuat sambutan.
Nasinya bisa gosong. Bumbunya bisa kebanyakan. Api bisa terlalu besar.
Dan kalau salah takaran, tidak ada rapat koordinasi yang bisa menyelamatkan rasa.
Jadi, lomba nasi goreng ini mungkin memang sederhana. Tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul suasana yang jarang terlihat dalam birokrasi: pejabat tertawa, saling bercanda, dan bekerja sama tanpa membawa terlalu banyak formalitas.
Hari itu mereka tidak sedang memasak kebijakan. Mereka benar-benar memasak nasi goreng.
Dan kalau setelah ini para pejabat Pemko Medan jadi lebih rajin memasak di rumah, setidaknya ada satu program keluarga yang berhasil lahir dari Semarak Kemerdekaan.
Semoga nasinya matang. Semoga kebersamaannya juga demikian.(***)






