Bunda PAUD Turun ke Lapangan: Jangan Sampai Selempangnya Aktif, Orangnya Pasif

Medan42 Dilihat

Bunda PAUD Turun ke Lapangan: Jangan Sampai Selempangnya Aktif, Orangnya Pasif

Medan – Pelantikan Bunda PAUD Kota Medan kembali digelar. Ada selempang, ada pin, ada penandatanganan naskah pengukuhan, ada pejabat yang hadir, dan tentu saja ada kamera yang siap mengabadikan momen.

Tetapi Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas tampaknya ingin memastikan satu hal: jangan sampai semua kemeriahan itu berhenti di panggung.

Saat melantik Airin Rico Waas sebagai Bunda PAUD Medan di Gedung Serbaguna TP PKK Medan, Senin (24/8/2026), Rico menyampaikan pesan yang cukup sederhana tetapi lumayan menusuk: Bunda PAUD jangan sekadar memakai selempang. Harus turun ke lapangan.

Sebab kalau tugas Bunda PAUD hanya mengenakan selempang, menghadiri seremoni, tersenyum di depan kamera, lalu pulang membawa pin, rasanya tidak perlu repot-repot membuat program.

Selempang bisa bekerja sendiri.

Masalahnya, anak-anak PAUD tidak membutuhkan selempang.

Mereka membutuhkan perhatian.

Rico mengingatkan bahwa usia 0 sampai 6 tahun merupakan masa penting dalam pembentukan fondasi anak. Pada usia inilah anak mulai menyerap banyak hal dari lingkungan sekitarnya.

Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan bisa ikut membentuk karakter.

Karena itu, urusan PAUD menurut Rico tidak boleh dipersempit menjadi soal anak belajar membaca, menulis, berhitung, lalu pulang.

Anak juga harus sehat, cukup gizi, mendapatkan pola asuh yang baik, punya ruang bermain, terlindungi dari kekerasan, dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sehat.

Dengan kata lain, PAUD bukan hanya urusan sekolah. PAUD adalah urusan satu kampung.

Di sinilah peran Bunda PAUD menjadi menarik.

Bunda PAUD kecamatan dan kelurahan diminta menjadi ujung tombak untuk melihat langsung persoalan anak di masyarakat. Mulai dari anak yang kurang mendapat perhatian, masalah gizi, imunisasi, lingkungan keluarga, hingga anak yang sudah harus bekerja pada usia yang seharusnya masih bermain.

Sebuah tugas yang tentu jauh lebih berat daripada sekadar menghadiri undangan acara.

Karena di lapangan, tidak ada karpet merah.

Tidak semua PAUD punya gedung bagus.

Tidak semua guru memiliki fasilitas lengkap.

Tidak semua anak datang dari keluarga dengan kondisi yang ideal.

Dan tidak semua persoalan anak bisa diselesaikan dengan seminar yang berjudul panjang dan spanduk yang besar.

Kadang persoalannya sederhana: ada anak yang butuh didengar.

Ada anak yang butuh makanan bergizi.

Ada orang tua yang butuh diberi pemahaman.

Ada guru PAUD yang butuh pendampingan.

Ada lingkungan yang perlu diawasi.

Dan ada anak yang mungkin selama ini tidak pernah masuk dalam foto kegiatan resmi pemerintah.

Di situlah kalimat Rico tentang “turun ke lapangan” menjadi penting.

Sebab kalau Bunda PAUD benar-benar turun, mereka akan melihat bahwa persoalan pendidikan anak usia dini tidak selalu berada di dalam ruang kelas.

Sebagian persoalan justru dimulai dari rumah.

Rico menyoroti pentingnya tontonan anak, komunikasi dalam keluarga, serta lingkungan yang bebas dari kekerasan dan kata-kata kasar.

Ini penting. Karena anak kecil memang tidak memiliki tombol delete seperti di komputer.

Apa yang mereka lihat dan dengar bisa tersimpan lama.

Orang dewasa mungkin menganggap sebuah pertengkaran sebagai urusan lima menit.

Bagi anak, bisa jadi itu menjadi pengalaman yang diingat bertahun-tahun.

Begitu pula dengan makanan.

Anak-anak memang belum memiliki kemampuan untuk membaca label kandungan gula, garam, atau bahan tambahan makanan sambil jajan di depan sekolah.

Yang penting bagi mereka biasanya cuma satu:

Enak.

Kalau warnanya menarik, bentuknya lucu, rasanya manis, bonusnya mainan, selesai sudah urusan.

Karena itu, orang dewasa yang harus lebih cerewet.

Bunda PAUD harus ikut mengedukasi orang tua dan lingkungan agar makanan anak tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mendukung tumbuh kembang.

Dan sekali lagi, pekerjaan seperti ini tidak selesai dengan pelantikan.

Pelantikan selesai dalam beberapa jam.

Mendidik anak berlangsung bertahun-tahun.

Jangan Sampai Programnya Bagus di Atas Kertas

Airin Rico Waas sendiri menyatakan komitmennya untuk meningkatkan mutu dan memperluas akses layanan PAUD, sekaligus memperkuat perhatian terhadap pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, kesejahteraan, dan perlindungan anak.

Bagus.

Tetapi seperti biasa, tantangan terbesar pemerintah bukan membuat program.

Program pemerintah biasanya sangat mudah dibuat.

Nama program bisa dibuat keren.

Akronim bisa dibuat menarik.

Spanduk bisa dicetak.

Seremoni bisa dilaksanakan.

Yang sulit adalah memastikan program tersebut sampai kepada anak yang membutuhkan.

Jangan sampai program PAUD Kota Medan hebat ketika dipresentasikan di ruang rapat, tetapi ketika ditanya guru atau orang tua di tingkat kelurahan, jawabannya:

“Program apa itu?”

Karena itu, sinergi antara Bunda PAUD kota, kecamatan, kelurahan, OPD, sekolah, guru, tenaga kesehatan, orang tua, dan masyarakat memang harus nyata.

Kalau koordinasi berjalan baik, persoalan anak bisa lebih cepat ditemukan.

Kalau datanya bagus, kebijakan bisa lebih tepat.

Kalau pengawasan berjalan, program tidak mudah melenceng.

Dan kalau Bunda PAUD benar-benar turun ke lapangan, mungkin mereka akan menemukan banyak hal yang tidak pernah masuk dalam laporan bulanan.

Itulah fungsi sebenarnya dari sebuah jabatan sosial.

Bukan sekadar terlihat.

Tetapi melihat.

Bukan sekadar dilantik.

Tetapi bergerak.

Bukan sekadar memakai selempang.

Tetapi memikul tanggung jawab di balik selempang itu.

Sebab anak-anak Medan tidak akan bertanya siapa yang paling bagus selempangnya.

Mereka juga tidak akan peduli siapa yang paling banyak berfoto saat pelantikan.

Yang mereka butuhkan jauh lebih sederhana:

sekolah yang layak, guru yang peduli, makanan yang sehat, keluarga yang aman, ruang bermain, dan orang dewasa yang mau memperjuangkan kepentingan mereka.

Jadi pesan Rico Waas sebenarnya cukup jelas.

Selempang boleh dipakai. Pin boleh terpasang. Foto pelantikan silakan diabadikan.

Tetapi setelah acara selesai, saat kamera dimatikan dan kursi-kursi dirapikan, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai.

Karena Bunda PAUD yang hebat bukan yang paling sering terlihat di panggung, melainkan yang paling sering terlihat di tengah anak-anak.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *