Ketika Bea Cukai Masuk Kelas—Dari Barang Ilegal Sampai Mimpi Jadi Abdi Negara

Aceh, Ekonomi, Pendidikan13 Dilihat

Di Aceh Barat Daya, suasana sekolah mendadak sedikit berbeda. Biasanya, pelajaran yang bikin deg-degan itu matematika atau fisika. Tapi kali ini, yang datang justru sesuatu yang lebih “realistis”: Bea Cukai.

Lewat program Bea Cukai Meulaboh bertajuk Customs Goes To School, para siswa di SMA Negeri 3 Aceh Barat Daya dan SMA Negeri Unggul Tunas Bangsa diajak mengenal dunia yang biasanya cuma muncul di berita—barang ilegal, pengawasan, dan tentu saja, istilah-istilah yang terdengar serius tapi pelan-pelan jadi menarik kalau dijelaskan dengan santai.

Dua narasumber hadir: Irham Rasyidin dan Ahmad Rifai. Mereka menjelaskan bahwa Bea Cukai itu bukan sekadar petugas di bandara yang bikin koper dibuka. Lebih dari itu, mereka adalah “penjaga gerbang” negara—yang memastikan barang ilegal tidak masuk, ekonomi tetap stabil, dan masyarakat tidak tiba-tiba membeli sesuatu yang ternyata lebih berbahaya dari tugas kelompok dadakan.

Siswa tampak antusias. Mungkin karena akhirnya ada pelajaran yang langsung terasa hubungannya dengan kehidupan nyata. Atau mungkin juga karena ada satu kata yang diam-diam paling ditunggu: Politeknik Keuangan Negara STAN.

Begitu nama itu disebut, suasana kelas berubah. Dari yang awalnya fokus ke barang ilegal, mendadak beralih ke masa depan. Karena di Indonesia, ada satu hal yang selalu berhasil menarik perhatian siswa: peluang jadi ASN.

Pertanyaan pun mengalir deras. Dari “apa tugas Bea Cukai?” sampai “gimana caranya masuk STAN?” Sebuah transisi yang halus tapi sangat manusiawi—dari memahami negara, ke mencoba jadi bagian dari negara.

Pihak sekolah tentu senang. Kepala sekolah, Wiwid, mengapresiasi kegiatan ini karena membuka wawasan siswa. Sementara itu, Mursyidin menilai ini sebagai tambahan ilmu di luar buku teks. Karena memang, kadang pelajaran paling berkesan itu justru yang tidak ada di kurikulum.

Dari sisi penyelenggara, Andi Suhendra menegaskan bahwa ini bagian dari upaya meningkatkan kesadaran hukum sejak dini. Sebuah misi mulia—karena kalau generasi muda sudah paham hukum, setidaknya nanti mereka tidak kaget saat berhadapan dengan realitas.

Program ini memang sederhana: datang ke sekolah, berbagi ilmu, lalu pulang. Tapi dampaknya bisa panjang—dari yang awalnya tidak tahu apa itu Bea Cukai, jadi paham. Dari yang awalnya tidak punya gambaran masa depan, jadi mulai melirik seragam dinas.

Dan di situlah letak keindahan program ini.

Karena di balik penjelasan tentang barang ilegal dan kepatuhan,
terselip satu pelajaran penting:
bahwa masa depan itu bisa datang dari mana saja—
bahkan dari sebuah kelas yang tiba-tiba kedatangan tamu berseragam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *