Kalau biasanya ruang kerja Ketua DPRD dipenuhi pembahasan anggaran, peraturan daerah, atau aspirasi masyarakat, kali ini yang dibawa adalah sebuah cerita. Bukan cerita politik, melainkan cerita yang akan dihidupkan lewat layar lebar.
Senin (4 Mei 2026), Ketua DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen, M.Pd.B., menerima audiensi Komunitas Film Sumatera Utara (KOFSU) bersama Badan Kerja Sama Antar Gereja (BKAG) Kota Medan. Pertemuan berlangsung di ruang kerja Ketua DPRD di Jalan Kapten Maulana Lubis Nomor 1, Medan, dalam suasana penuh keakraban dan semangat kolaborasi.
Agenda utama audiensi adalah memperkenalkan rencana produksi film berjudul “Barongsai Keramat”, sebuah karya sinematografi yang mengangkat kekayaan akulturasi budaya dan tradisi lokal Sumatera Utara ke dalam media visual.
Judulnya memang mengundang rasa penasaran. Kata barongsai identik dengan budaya Tionghoa, sementara kata keramat begitu lekat dengan nuansa lokal Nusantara. Ketika keduanya dipadukan, muncul sebuah pesan sederhana: keberagaman tidak selalu harus diperdebatkan, kadang cukup diceritakan melalui sebuah film.
Kalau dipikir-pikir, film memang memiliki cara yang unik dalam menyampaikan pesan. Ceramah mungkin hanya didengar oleh sebagian orang, seminar hanya dihadiri peserta tertentu, tetapi sebuah film yang baik bisa membuat ribuan orang memahami pentingnya toleransi tanpa merasa sedang digurui.
Dalam audiensi tersebut, KOFSU dan BKAG juga menegaskan bahwa karya ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya memperkenalkan wajah Sumatera Utara yang kaya akan keberagaman budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dalam harmoni.
Kehadiran BKAG dalam proyek ini pun memberikan makna tersendiri. Sebab kolaborasi lintas komunitas menunjukkan bahwa merawat kebhinekaan tidak cukup hanya melalui slogan, tetapi juga melalui karya yang mampu menjangkau hati masyarakat.
Ketua DPRD Kota Medan menyambut baik semangat tersebut. Komunikasi dan silaturahmi antara DPRD dengan komunitas kreatif dinilai penting untuk terus dibangun, karena pembangunan sebuah kota tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri megah, tetapi juga dari tumbuhnya ruang bagi seni, budaya, dan kreativitas masyarakat.
Satire-nya sederhana: kota yang hebat bukan hanya yang memiliki banyak gedung tinggi, tetapi juga yang mampu menghasilkan cerita-cerita besar tentang warganya. Sebab gedung bisa menjadi tua, tetapi karya budaya akan terus hidup selama masih dikenang dan diceritakan.
Harapannya, “Barongsai Keramat” tidak hanya menjadi film yang menghibur, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan alasan untuk saling menjauh. Karena pada akhirnya, layar bioskop memang hanya menyala selama dua jam, tetapi pesan tentang toleransi, persaudaraan, dan akulturasi budaya bisa terus hidup jauh setelah kredit penutup selesai bergulir.(***)






