Suasana seminar parenting yang digelar Dharma Wanita Persatuan Provinsi Sumatera Utara di Medan mendadak penuh semangat intelektual. Tema yang diangkat pun terdengar megah dan penuh harapan masa depan: “Sumut Cerdas Berliterasi: Membangun Generasi Emas yang Inovatif.” Kalimat yang kalau dibaca pelan-pelan terasa seperti gabungan motivasi seminar, visi misi sekolah unggulan, dan caption Hari Pendidikan Nasional.
Acara ini turut dihadiri Kahiyang Ayu dan dipimpin Ketua Dewan Penasehat DWP Sumut Evi Novida Ginting yang mengingatkan pentingnya literasi di rumah. Menurutnya, ibu perlu aktif membacakan cerita, menyediakan bahan bacaan, hingga menciptakan lingkungan kaya literasi.
Artinya, ruang tamu ke depan diharapkan tidak hanya dipenuhi suara televisi sinetron dan notifikasi grup keluarga, tetapi juga bunyi halaman buku dibuka. Meski realistisnya, perjuangan terbesar ibu zaman sekarang mungkin bukan membujuk anak membaca buku, melainkan merebut perhatian mereka dari video 15 detik yang isinya orang menari sambil jual skincare.
Dalam seminar itu juga ditegaskan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Sebuah kalimat yang sudah sangat sering didengar, sampai-sampai sebagian ibu mungkin merasa statusnya bukan lagi “madrasah pertama”, tetapi sudah seperti “universitas terbuka 24 jam” — mengurus anak, pekerjaan rumah, tugas sekolah, mood keluarga, hingga kadang jadi teknisi WiFi dadakan.
Evi juga mengingatkan bahwa pola asuh lama tidak bisa lagi sepenuhnya dipakai di era sekarang. Orang tua diminta terus belajar dan upgrade ilmu. Ya, karena anak generasi sekarang bahkan belum lancar bicara, tapi sudah tahu cara membuka YouTube tanpa bantuan siapa pun. Sementara orang tuanya masih sering panik kalau tombol TV kepencet pindah input HDMI.
Psikolog Herlina Sri Hastuty turut membagikan tips agar anak gemar membaca. Mulai dari membaca bersama keluarga, memakai buku interaktif, hingga mendongeng. Sebab anak yang suka membaca disebut punya daya pikir lebih kritis dan mampu mengekspresikan diri lebih baik.
Walaupun di lapangan, tantangan orang tua kadang unik. Buku cerita yang dibeli mahal-mahal bisa kalah menarik dibanding kardus paket belanja online yang justru lebih sering dimainkan anak selama berjam-jam.
Sementara itu, akademisi Doris Apriani Ritonga menekankan pentingnya membangun struktur berpikir kognitif dan inovasi sejak dini. Ia juga mengajak keluarga, sekolah, dan masyarakat berkolaborasi meningkatkan literasi digital.
Karena di zaman sekarang, literasi memang bukan cuma soal bisa membaca tulisan, tetapi juga kemampuan membedakan mana informasi bermanfaat dan mana judul clickbait seperti: “Nomor 7 bikin shock!”
Seminar ini setidaknya mengingatkan satu hal penting: membangun generasi emas ternyata tidak cukup hanya dengan cita-cita besar dan spanduk seminar. Tetap perlu dimulai dari hal sederhana di rumah — menemani anak membaca, mengurangi waktu layar, dan sesekali berdamai dengan kenyataan bahwa mendongeng sebelum tidur kini harus bersaing ketat dengan algoritma media sosial.(***)





