Silat Dijaga, Fasilitas Olahraga Dibiarkan Tumbang? Seremoni Budaya Tak Cukup Menyelamatkan Prestasi Medan

Pemerintah Kota Medan kembali menggelar seremoni yang penuh semangat. Kali ini, Wali Kota Rico Waas membuka Open Turnamen Pencak Silat IPSI Kota Medan 2026 dengan pesan yang terdengar begitu indah: menjaga budaya, melestarikan warisan leluhur, dan mencetak atlet berprestasi.

Pidato itu tentu layak diapresiasi. Pencak silat memang bukan sekadar olahraga, melainkan identitas bangsa yang harus terus hidup. Namun, persoalan sesungguhnya bukan pada pidato, melainkan pada konsistensi pemerintah setelah lampu panggung dimatikan.

Budaya tidak cukup dijaga lewat seremoni pembukaan turnamen. Budaya dijaga melalui kebijakan yang berpihak kepada pembinaan atlet sejak usia dini, fasilitas latihan yang layak, pelatih yang sejahtera, dan anggaran yang benar-benar menyentuh akar pembinaan, bukan sekadar habis untuk kegiatan seremonial.

Ironisnya, di saat pemerintah berbicara tentang melahirkan juara Sumatera Utara bahkan nasional, masih banyak fasilitas olahraga di lingkungan masyarakat yang kondisinya memprihatinkan. Bahkan dalam agenda “Sapa Warga” beberapa waktu lalu, warga sendiri masih harus meminta lapangan olahraga dan perlengkapan sederhana untuk anak-anak mereka. Jika kebutuhan paling dasar saja masih harus dimohonkan langsung kepada wali kota, bagaimana mungkin mimpi melahirkan atlet berprestasi dibangun dengan fondasi seperti itu?

Turnamen memang penting. Kompetisi juga dibutuhkan. Tetapi kompetisi hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya ada proses pembinaan bertahun-tahun yang sering kali luput dari perhatian pemerintah. Atlet tidak lahir dalam semalam hanya karena ada kejuaraan tiga hari.

Rico Waas mengatakan silat adalah budaya yang harus dilestarikan. Pernyataan itu benar. Namun melestarikan budaya berarti memastikan setiap perguruan silat memiliki ruang berkembang, setiap anak memiliki akses latihan tanpa terbebani biaya, dan setiap atlet berprestasi tidak berhenti bertanding karena kekurangan dukungan.

Hadiah seragam silat bagi atlet yang berani menjawab pertanyaan memang menjadi hiburan yang menyenangkan. Tetapi yang jauh lebih dibutuhkan para atlet adalah kepastian pembinaan yang berkelanjutan, bantuan peralatan latihan, kompetisi rutin, jaminan pendidikan bagi atlet berprestasi, hingga perhatian terhadap masa depan mereka setelah selesai bertanding.

Sudah terlalu sering pemerintah bangga saat membuka kejuaraan, tetapi lupa hadir ketika atlet membutuhkan dukungan setelah podium dibongkar. Yang dikenang publik bukan siapa yang memotong pita pembukaan, melainkan siapa yang benar-benar membangun ekosistem olahraga hingga melahirkan juara.

Jika Pemko Medan ingin menjadikan pencak silat sebagai kebanggaan daerah, maka ukuran keberhasilannya bukan banyaknya tepuk tangan saat pembukaan turnamen, melainkan berapa banyak atlet Medan yang mampu bertahan, berkembang, dan mengibarkan nama kota ini di tingkat nasional maupun internasional.

Karena budaya tidak hidup oleh pidato. Prestasi tidak lahir dari seremoni. Keduanya hanya akan bertahan jika pemerintah bekerja lebih keras di belakang layar daripada tampil di atas panggung.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *