Antara Lari dan Selfie: CFD Bekasi Jadi Arena Kardio Sekaligus Konten

Bekasi16 Dilihat

Pagi di CFD Jalan Ahmad Yani, Kota Bekasi, biasanya sudah cukup ramai dengan dua kubu: yang niat olahraga dan yang niat foto. Tapi kali ini suasananya naik level—ratusan warga ikut event lari bertajuk Java Running Tetralogy. Sebuah nama yang terdengar seperti film epik, padahal isinya tetap sama: napas ngos-ngosan, sepatu baru, dan tekad hidup sehat yang biasanya bertahan sampai Senin.

Di tengah keramaian itu, hadir sosok Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, lengkap bersama istri, Wiwiek Hargono Tri Adhianto. Kehadiran mereka tentu menambah semangat peserta—atau minimal menambah alasan untuk memperlambat lari demi bisa selfie dari kejauhan.

Usai membuka acara, Tri tidak langsung “finish”, melainkan ikut menikmati suasana CFD. Dengan gaya santai, ia berjalan kaki menyapa warga, mungkin sambil menghitung dalam hati: ini yang benar-benar lari, dan itu yang cuma bawa botol minum sebagai properti.

Yang menarik, di sela-sela kegiatan, ia membagikan suplemen vitamin kepada warga. Sebuah langkah yang sangat relevan, mengingat sebagian peserta mungkin baru ingat pentingnya kesehatan justru setelah kehabisan napas di kilometer pertama.

Menurut Tri, kegiatan seperti ini bukan sekadar olahraga, tapi juga ajang kolaborasi dan silaturahmi. Dan benar saja—di sini orang bisa bertemu teman lama, kenalan baru, bahkan mantan… yang tiba-tiba terlihat lebih bugar.

Ia pun menilai antusiasme warga sebagai sinyal positif menuju Bekasi sebagai “sport city”. Sebuah visi yang terdengar gagah, meskipun di lapangan masih ada yang berhenti tiap 200 meter untuk update story dengan caption: “Healthy lifestyle dimulai dari niat.”

“Event seperti ini harus rutin, minimal seminggu sekali,” ujar Tri. Pernyataan yang langsung diamini banyak orang—setidaknya secara lisan. Soal benar-benar datang tiap minggu, itu urusan nanti setelah alarm berbunyi di hari Minggu pagi.

Lebih lanjut, Tri menegaskan bahwa fun run adalah bagian penting membangun ekosistem olahraga. Karena dari yang awalnya cuma ikut-ikutan, lama-lama bisa jadi kebiasaan. Dari yang awalnya jalan santai, lama-lama bisa lari—atau minimal jalan lebih cepat dari biasanya.

Pemerintah Kota Bekasi sendiri, kata Tri, terus mendorong berbagai event olahraga, baik komunitas maupun skala nasional. Fasilitas diperbaiki, ruang publik dimaksimalkan, komunitas dirangkul—tinggal satu yang belum bisa diatur: rasa malas yang datang tiap akhir pekan.

Namun setidaknya, pagi itu, Bekasi berhasil menunjukkan satu hal penting: bahwa olahraga bisa jadi menyenangkan, apalagi kalau dilakukan rame-rame. Soal konsistensi, ya seperti niat diet—yang penting mulai dulu. Minggu depan? Kita lihat saja siapa yang benar-benar lari, dan siapa yang kembali ke mode “penonton profesional”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *