Suasana di Kantor Gubernur Sumut kali ini agak berbeda. Biasanya antrean ASN identik dengan urusan tanda tangan, pengurusan berkas, atau menyerbu kopi saat jeda rapat. Namun kali ini, ratusan Aparatur Sipil Negara justru antusias mengikuti vaksinasi HPV hasil kolaborasi Korps Pegawai Republik Indonesia Sumatera Utara dan Biofarma
.
Topiknya serius: pencegahan kanker serviks. Tapi pendekatannya terasa lebih segar karena mulai muncul kesadaran bahwa menjaga kesehatan itu sama pentingnya dengan menjaga file Excel tidak hilang sebelum deadline.
Menurut Area Manager Biofarma Regional Sumatera, Yosua Bao, angka kasus kanker serviks di Sumut masih cukup tinggi. Bahkan disebut menjadi penyebab kematian nomor dua setelah kanker payudara. Karena itu vaksinasi dini dianggap penting.
Dan memang, dibanding sebagian drama kehidupan modern, HPV ini jauh lebih berbahaya daripada notifikasi “memori penyimpanan hampir penuh” yang selama ini paling sering membuat panik.
Sekitar 100 ASN mengikuti vaksin dosis pertama. Nantinya akan ada dosis kedua dan ketiga. Menariknya, panitia juga membuka peluang tambahan bagi ASN yang belum sempat ikut.
Artinya, untuk sekali ini, istilah “gelombang susulan” bukan tentang rekrutmen CPNS atau pembagian tunjangan, melainkan urusan kesehatan yang benar-benar penting.
Antusiasme peserta juga cukup tinggi. Salah satunya disampaikan Nesya Sabrina yang mengaku mengikuti vaksinasi karena punya riwayat keluarga kanker serviks. Pengalamannya mendampingi sang ibu menjalani pengobatan membuatnya sadar pentingnya pencegahan sejak dini.
Dan di situlah kadang manusia baru benar-benar mengerti arti hidup sehat: bukan saat membaca slogan di spanduk rumah sakit, tetapi ketika melihat langsung beratnya perjuangan orang terdekat menghadapi penyakit.
Kegiatan ini setidaknya memberi angin segar bahwa ASN sekarang bukan cuma diajak meningkatkan kinerja dan disiplin, tetapi juga mulai diajak peduli kesehatan diri sendiri. Karena tubuh ASN juga bukan mesin fotokopi kantor yang bisa dipaksa menyala terus meski sudah bunyi aneh sejak pagi.
Semoga program seperti ini terus berlanjut. Sebab di tengah rutinitas birokrasi, rapat maraton, dan grup WhatsApp kantor yang aktif bahkan di luar jam kerja, menjaga kesehatan kadang menjadi hal pertama yang justru sering ditunda.
Padahal, kalau sakit sudah datang, yang biasanya rajin bilang “siap laksanakan” pun akhirnya cuma bisa pasrah menunggu nomor antrean dokter.(***)






