Bobby Ingatkan BPJS: Jangan Sampai Kartu Sehat, Tapi Pasien Tetap Dibikin Pusing

Nasional, Politik, Sumut11 Dilihat

Muhammad Bobby Afif Nasution kembali mengingatkan pentingnya kualitas layanan kesehatan dalam pertemuannya dengan BPJS Kesehatan di Medan. Pesannya sederhana tapi sangat dekat dengan realita rakyat: jangan sampai masyarakat sudah punya kartu BPJS, tapi tetap bingung saat mau berobat.

Karena bagi sebagian warga, pengalaman menggunakan layanan kesehatan kadang terasa seperti ujian hidup berlapis. Sudah sakit, masih harus menghadapi antrean, rujukan, fotokopi berkas, hingga kalimat legendaris: “Mohon maaf, sistem sedang gangguan.”

Dalam audiensi itu, Bobby menegaskan bahwa Program Berobat Gratis (Probis) dan Universal Health Coverage (UHC) menjadi prioritas Pemprov Sumut. Ia mengapresiasi dukungan BPJS, tetapi tetap mengingatkan bahwa pelayanan harus benar-benar dirasakan masyarakat.

Sebab tujuan utama orang datang ke rumah sakit itu ingin sembuh, bukan menambah tekanan darah karena dipindah dari loket satu ke loket lain sambil membawa map bening.

Bobby juga menyinggung masih adanya masyarakat yang kesulitan mendapat layanan atau bahkan ditolak rumah sakit. Padahal Sumut sudah mendorong sistem berobat cukup memakai KTP.

Ini sebenarnya konsep yang sangat melegakan rakyat. Karena di negara yang warganya sering lupa membawa dompet, setidaknya identitas di ponsel atau hafalan nomor KTP masih bisa jadi penyelamat saat darurat.

Namun tentu harapannya, kemudahan administratif ini benar-benar diikuti pelayanan yang manusiawi. Jangan sampai slogan “berobat gratis” terdengar indah di baliho, tapi pasien tetap harus berjuang seperti peserta audisi bertahan hidup.

Gubernur juga meminta agar rumah sakit tidak membeda-bedakan pasien. Ini penting, karena masyarakat sering merasa ada dua dunia berbeda di ruang tunggu rumah sakit: satu dunia pasien umum yang dilayani cepat, dan satu lagi pasien BPJS yang kadang merasa sedang mengikuti program kesabaran nasional.

Kalau memang ada rumah sakit yang menolak pasien, Bobby meminta BPJS memberi sanksi tegas. Pernyataan ini tentu membuat publik berharap ada perubahan nyata, bukan sekadar rapat evaluasi yang hasil akhirnya kembali berupa spanduk imbauan.

Sementara itu, Akmal Budi Yulianto mengapresiasi capaian UHC Sumut yang disebut berhasil diwujudkan kurang dari setahun. Sebuah pencapaian yang memang patut diapresiasi, mengingat biasanya urusan administrasi di negeri ini terkenal punya bakat alami bergerak perlahan tapi penuh formulir.

Pada akhirnya, masyarakat sebenarnya tidak meminta layanan kesehatan yang mewah. Mereka hanya ingin satu hal sederhana: saat sakit datang, proses berobat jangan ikut membuat hidup terasa makin sakit.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *