“Jangan pernah berkata saya sudah tua.”
Kalimat itu disampaikan Wali Kota Medan Rico Waas kepada para lansia dalam peringatan Hari Lanjut Usia Nasional. Sebuah pesan yang hangat dan penuh motivasi. Tidak ada yang salah dengan ajakan agar lansia tetap semangat, sehat, dan menjadi inspirasi bagi keluarga. Justru itu adalah harapan yang baik.
Namun, semangat saja tidak cukup jika negara belum sepenuhnya menghadirkan rasa aman bagi mereka yang memasuki usia senja.
Terlalu sering pemerintah mengajak lansia untuk tetap produktif, aktif, dan mandiri. Padahal, yang lebih mendesak adalah memastikan mereka tidak harus berjuang sendirian menghadapi mahalnya biaya hidup, sulitnya akses layanan kesehatan, minimnya ruang publik yang ramah lansia, hingga bantuan sosial yang belum sepenuhnya menjangkau semua yang membutuhkan.
Kalimat “jadilah cahaya bagi keluarga” memang terdengar indah. Tetapi bagaimana mungkin seseorang terus menjadi cahaya jika kehidupannya sendiri masih dipenuhi kecemasan tentang biaya berobat, kebutuhan sehari-hari, atau penghasilan yang tidak lagi ada setelah pensiun?
Pemko Medan menyebut memiliki komitmen membangun kota yang ramah lansia melalui ruang publik, fasilitas olahraga, hingga program bantuan sosial. Komitmen itu tentu patut diapresiasi. Namun masyarakat tidak akan menilai keberhasilan dari banyaknya pidato atau jumlah acara peringatan. Mereka akan menilai dari hal-hal sederhana: apakah lansia mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, apakah trotoar aman untuk mereka lalui, apakah fasilitas publik benar-benar ramah bagi pengguna kursi roda dan tongkat, serta apakah bantuan sosial benar-benar tepat sasaran.
Program PKH Medan Makmur yang disebut menyasar 10 ribu penerima setiap tahun juga layak diapresiasi. Tetapi angka sasaran bukanlah ukuran keberhasilan. Yang jauh lebih penting adalah transparansi data penerima, ketepatan penyaluran, serta kepastian bahwa tidak ada lansia miskin yang terlewat hanya karena kesalahan administrasi.
Ironisnya, setiap Hari Lanjut Usia Nasional hampir selalu diisi dengan seminar, pertunjukan seni, bazar, dan pembagian hadiah. Semua itu tentu menyenangkan bagi peserta. Tetapi kehidupan lansia berlangsung selama 365 hari dalam setahun, bukan hanya pada hari peringatan. Yang mereka butuhkan adalah kebijakan yang hadir setiap hari, bukan perhatian yang muncul setahun sekali.
Pemerintah juga sering menyebut lansia sebagai aset bangsa. Pernyataan itu benar. Namun aset tidak cukup dihormati dengan piagam penghargaan atau seremoni. Aset dijaga melalui perlindungan yang nyata, pelayanan yang manusiawi, dan anggaran yang benar-benar berpihak kepada mereka.
Menghormati lansia bukan hanya soal meminta mereka terus menginspirasi generasi muda. Menghormati lansia berarti memastikan mereka tidak dipinggirkan oleh pembangunan, tidak dipersulit saat mengakses layanan publik, dan tidak merasa menjadi beban di usia senja.
Pada akhirnya, pesan Rico Waas mengandung niat yang baik. Tetapi pemerintah harus memahami bahwa motivasi tidak boleh menjadi pengganti kebijakan. Lansia memang bisa menjadi cahaya bagi keluarga. Namun tugas pemerintah adalah memastikan cahaya itu tidak redup karena persoalan ekonomi, kesehatan, atau pelayanan publik yang seharusnya bisa diselesaikan oleh negara.
Karena ukuran sebuah kota yang beradab bukanlah seberapa meriah peringatan Hari Lansia yang diselenggarakan, melainkan seberapa bermartabat kehidupan para lansianya ketika tidak ada panggung, tidak ada kamera, dan tidak ada pidato yang sedang berlangsung.(***)






