Setiap kali harga cabai melonjak atau beras mulai langka, pemerintah kembali mengingatkan pentingnya ketahanan pangan. Forum digelar, narasumber berbicara, strategi disusun, istilah-istilah baru bermunculan. Kali ini, dalam Forum Pangan Nasional APEKSI di Medan, kata kuncinya adalah kolaborasi, smart farming, urban farming, hingga co-creation.
Semuanya terdengar modern. Semuanya terdengar visioner. Namun satu pertanyaan sederhana tetap menggantung di benak masyarakat: setelah forum selesai, apakah harga kebutuhan pokok ikut turun?
Wali Kota Medan Rico Waas mengakui kenyataan yang memang tidak bisa dibantah. Medan bukan daerah penghasil pangan. Kota ini hidup dari pasokan daerah lain seperti Karo, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai. Pengakuan itu penting, karena setidaknya pemerintah tidak sedang berpura-pura bahwa kota metropolitan bisa swasembada hanya dengan menanam cabai di pot atau memanen selada di atap gedung.
Kerja sama antardaerah memang menjadi kebutuhan mutlak. Tidak ada kota besar yang bisa hidup sendiri. Tetapi kerja sama bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman atau foto berjabat tangan di depan spanduk bertuliskan “Sinergi”. Kerja sama baru memiliki arti ketika distribusi benar-benar lancar, biaya logistik turun, dan harga di pasar tidak berubah liar setiap kali cuaca sedikit bermasalah.
Yang menarik, forum ini juga dipenuhi istilah yang sedang populer: smart farming, urban farming, dan co-creation. Istilah-istilah itu memang terdengar canggih. Namun petani di lapangan mungkin lebih membutuhkan pupuk yang tersedia, irigasi yang berfungsi, jalan produksi yang layak, dan harga panen yang menguntungkan daripada sekadar mendengar istilah berbahasa Inggris dalam seminar hotel berbintang.
Karena ketahanan pangan tidak tumbuh dari presentasi PowerPoint. Ketahanan pangan tumbuh dari sawah yang tetap produktif, petani yang masih mau bertani, dan distribusi yang tidak dipermainkan rantai panjang perdagangan.
Rico Waas mengatakan bahwa Medan adalah hub ekonomi yang mengelola produksi dari daerah lain. Pernyataan itu tepat. Sebagai kota perdagangan, Medan memang menjadi simpul distribusi. Namun posisi sebagai pusat distribusi juga membawa tanggung jawab besar. Jangan sampai kota menjadi pusat perdagangan, tetapi masyarakatnya tetap membeli kebutuhan pokok dengan harga yang terus menguras isi dompet.
Di forum yang sama, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya mengingatkan tentang bonus demografi yang memiliki “masa kedaluwarsa”. Sebuah istilah yang menarik. Karena memang benar, jumlah penduduk usia produktif tidak akan otomatis menjadi berkah jika mereka tumbuh dengan gizi buruk, daya beli melemah, dan harga pangan semakin sulit dijangkau.
Tidak ada generasi emas yang lahir dari meja makan yang kosong.
Pujian kepada Kota Medan karena menjadi salah satu daerah dengan alokasi APBD pangan tertinggi tentu patut diapresiasi. Artinya, pemerintah menaruh perhatian pada sektor yang sangat penting. Tetapi besarnya anggaran bukanlah garis akhir. Yang lebih penting adalah apakah anggaran itu benar-benar terasa manfaatnya di pasar tradisional, di dapur rumah tangga, dan di kantong masyarakat.
Rakyat tidak menghitung persentase APBD. Mereka menghitung berapa harga beras pagi ini, berapa harga cabai minggu depan, dan apakah uang belanja masih cukup sampai akhir bulan.
Inilah tantangan terbesar setiap kebijakan pangan. Pemerintah sering berhasil membuat strategi yang indah di atas kertas, tetapi belum tentu mampu menahan gejolak harga di lapangan. Inflasi tidak pernah takut pada jargon. Harga cabai tidak turun hanya karena forum menghasilkan deklarasi bersama.
Karena itu, kolaborasi antardaerah memang harus diperkuat. Tetapi kolaborasi juga harus melibatkan petani, pelaku distribusi, pedagang pasar, akademisi, dan masyarakat secara nyata, bukan hanya sebagai peserta diskusi. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari menghadapi persoalan pangan, bukan hanya membahasnya.
Pada akhirnya, keberhasilan Forum Pangan Nasional tidak akan diukur dari banyaknya kepala daerah yang hadir atau panjangnya daftar rekomendasi yang disepakati. Forum ini akan dinilai dari satu hal yang sangat sederhana: apakah beberapa bulan ke depan masyarakat Medan bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang lebih stabil dan terjangkau.
Karena ketahanan pangan bukanlah keberhasilan menyelenggarakan forum yang megah di hotel. Ketahanan pangan adalah ketika seorang ibu rumah tangga datang ke pasar tanpa rasa cemas melihat harga yang terus berubah, dan seorang petani pulang dari sawah dengan keyakinan bahwa hasil panennya masih layak untuk menghidupi keluarganya.
Jika itu belum terwujud, maka semua istilah keren seperti smart farming, urban farming, dan co-creation hanyalah bumbu dalam pidato. Sementara rakyat tetap mencari lauk yang harganya tidak ikut melambung.(***)







