Anak Muda Diminta Mengubah Kota, Tapi Kota Sudah Siap Berubah atau Belum?

Setiap kali berbicara tentang masa depan Indonesia, anak muda selalu menjadi tokoh utama. Mereka disebut agen perubahan, motor inovasi, generasi emas, hingga harapan bangsa. Kali ini, dalam forum Youth City Changers APEKSI 2026, generasi muda kembali diajak menjadi kunci membangun kota yang tangguh menghadapi bencana.

Ajakan itu tentu terdengar inspiratif. Tetapi ada satu pertanyaan yang layak diajukan: apakah kita sedang mempersiapkan anak muda menghadapi masa depan, atau sedang meminta mereka memperbaiki persoalan yang diwariskan generasi sebelumnya?

Forum berlangsung megah. Para kepala daerah berbagi pengalaman, Wakil Menteri berbicara tentang kepemimpinan, dan peserta muda mendengarkan berbagai strategi membangun resilient city. Semua terdengar penuh optimisme.

Namun bencana tidak pernah membaca materi seminar.

Banjir datang bukan karena masyarakat kurang menghadiri forum diskusi. Longsor tidak terjadi karena generasi muda kurang mengikuti sesi motivasi. Bencana sering kali menjadi akumulasi dari tata ruang yang semrawut, drainase yang tidak memadai, pembangunan yang mengabaikan lingkungan, dan kebijakan yang lebih sibuk mengejar pertumbuhan daripada keberlanjutan.

Wali Kota Medan Rico Waas menceritakan pengalaman menghadapi banjir besar pada November 2025 yang merendam hampir seluruh kecamatan di Kota Medan. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga kesiapan masyarakat yang masih enggan dievakuasi.

Pengakuan itu penting. Karena membangun kota tangguh memang bukan sekadar membangun tembok penahan banjir atau memperbesar drainase. Ketangguhan juga soal kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Jika warga menolak dievakuasi, bisa jadi persoalannya bukan hanya kurangnya edukasi, tetapi juga pengalaman masa lalu yang membuat mereka ragu terhadap sistem penanganan bencana.

Yang menarik adalah pengakuan bahwa setelah banjir surut, persoalan justru semakin besar. Sampah melonjak hingga ribuan ton per hari. Inilah kenyataan yang sering terlupakan. Bencana tidak berakhir ketika air surut. Bencana baru selesai ketika kehidupan masyarakat benar-benar pulih.

Di sinilah perbedaan antara mengelola bencana dan mengelola dampak bencana.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menyebut bencana sebagai ujian terhadap sistem, kepemimpinan, komunikasi, kebersamaan, dan data. Pernyataan itu sulit dibantah. Sebab setiap kali bencana datang, yang diuji bukan hanya kekuatan alam, tetapi juga kualitas tata kelola pemerintahan.

Sayangnya, banyak daerah di Indonesia masih memiliki kebiasaan yang sama: sibuk membeli perahu ketika banjir sudah datang, sibuk membangun posko ketika warga sudah mengungsi, dan sibuk mengevaluasi setelah semuanya selesai.

Mitigasi masih kalah populer dibandingkan penanganan darurat.

Padahal tidak ada kepala daerah yang mendapat tepuk tangan karena berhasil mencegah banjir. Yang sering mendapat sorotan justru mereka yang sibuk membagikan bantuan saat banjir sudah menjadi berita nasional.

Inilah ironi birokrasi kita. Pencegahan sering tidak terlihat, sementara penanganan darurat selalu lebih fotogenik.

Anak muda memang memiliki peran penting dalam membangun kota yang tangguh. Mereka lebih cepat menguasai teknologi, lebih mudah beradaptasi, dan memiliki energi besar untuk berinovasi. Namun jangan sampai semangat mereka hanya dijadikan pelengkap narasi tanpa benar-benar dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Jika generasi muda hanya diminta menjadi relawan ketika bencana datang, tetapi tidak pernah diajak merancang kebijakan sebelum bencana terjadi, maka yang berubah hanya istilahnya, bukan sistemnya.

Kota tangguh tidak lahir dari banyaknya seminar tentang ketangguhan. Kota tangguh lahir dari keberanian memperbaiki tata ruang, menjaga lingkungan, membangun sistem peringatan dini, serta memastikan setiap warga tahu apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana.

Pada akhirnya, forum seperti Youth City Changers memang penting untuk menumbuhkan kesadaran. Tetapi kesadaran saja tidak cukup. Anak muda membutuhkan ruang untuk didengar, bukan sekadar diminta mendengar.

Karena masa depan kota tidak dibangun oleh pidato yang paling inspiratif, melainkan oleh kebijakan yang paling konsisten dijalankan.

Dan kota yang benar-benar tangguh bukanlah kota yang paling hebat berbicara tentang mitigasi di ruang konferensi, melainkan kota yang mampu membuat warganya merasa aman bahkan ketika langit mulai gelap dan hujan turun tanpa henti.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *