Medan, Pintu Gerbang Sumatra yang Mulai Rajin Mengetuk Pintu Eropa
Medan tampaknya sedang punya ambisi baru: bukan sekadar menjadi kota yang sibuk dengan kemacetan, lampu merah, dan drama parkir, tetapi juga ingin tampil sebagai “pintu gerbang internasional” yang benar-benar punya kunci untuk membuka hubungan ke dunia.
Ambisi itu terlihat ketika Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menerima kunjungan Duta Besar Belgia untuk Indonesia, David Jordens, di Balai Kota Medan, Senin (24/8/2026). Pertemuannya terdengar serius: membahas transportasi publik ramah lingkungan, pengelolaan sampah, pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, UMKM, sampai hilirisasi komoditas unggulan.
Lengkap. Kalau ada yang kurang mungkin tinggal membahas bagaimana mencari tempat parkir diplomat.
Rico Waas menyebut Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatra Utara sekaligus pintu gerbang internasional di Sumatra. Sebuah predikat yang tentu menarik. Sebab pintu gerbang itu bukan cuma soal siapa yang datang dan pergi, tetapi juga soal apakah pintunya cukup bagus untuk membuat orang ingin masuk dan tidak buru-buru mencari pintu keluar.
Di bidang transportasi, misalnya, Pemko Medan mendorong penggunaan kendaraan listrik dan pengembangan Bus Rapid Transit (BRT). Ini tentu kabar baik. Kota modern memang tidak harus selalu identik dengan asap knalpot, suara klakson, dan pengendara yang merasa lampu merah hanyalah saran.
Kalau bus listrik benar-benar berkembang, Medan punya kesempatan menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus selalu dimulai dari Silicon Valley. Bisa juga dimulai dari jalanan Medan—meskipun tentu tantangannya bukan cuma menyediakan bus listrik, tetapi memastikan bus tersebut bisa bergerak lancar tanpa harus bernegosiasi terlalu lama dengan kemacetan.
Urusan sampah juga masuk dalam pembicaraan. Konsep waste to energy mulai dilirik sebagai salah satu solusi. Ini menarik, karena selama ini sampah sering dianggap sebagai masalah yang harus segera dipindahkan dari depan mata. Dengan waste to energy, sampah justru diharapkan bisa berubah menjadi energi.
Sebuah konsep yang cukup revolusioner: sesuatu yang biasanya membuat warga mengeluh, kelak diharapkan bisa menghasilkan listrik.
Kalau berhasil, mungkin suatu hari warga tidak lagi berkata, “Sampahnya ke mana?” tetapi berubah menjadi, “Listriknya dari mana?” Jawabannya: dari sampah yang selama ini bikin pusing.
Pertemuan Medan-Belgia itu juga membicarakan pendidikan dan kesehatan. Dua sektor yang memang selalu menjadi bahan pembicaraan penting dalam setiap forum pembangunan. Bedanya, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana pembicaraan itu tidak berhenti menjadi foto bersama, pertukaran kartu nama, lalu pulang membawa oleh-oleh dan kenangan.
Sementara itu, Duta Besar Belgia David Jordens menyebut Medan sebagai kota pertama di Pulau Sumatra yang secara khusus ia kunjungi sejak memulai masa tugasnya di Indonesia pada awal Agustus 2026.
Ini tentu patut diapresiasi. Medan mendapat perhatian khusus dari seorang diplomat Belgia. Artinya, mungkin dunia mulai melihat Sumatra tidak hanya dari peta, perkebunan, tambang, atau cerita tentang macetnya jalan raya.
Lebih menarik lagi, Belgia berencana mengaktifkan kembali Konsul Kehormatan Belgia di Medan yang sebelumnya pernah ada tetapi tidak aktif. Kehadiran konsul tersebut diharapkan dapat mempermudah jalur diplomasi, bisnis, dan hubungan antarwarga.
Dengan kata lain, Medan sedang berusaha memperpendek jarak antara Balai Kota, dunia usaha, masyarakat, dan Eropa. Kalau jalurnya benar-benar terbuka, bukan tidak mungkin hubungan Medan-Belgia kelak bukan hanya soal seremoni diplomatik, tetapi juga kontrak bisnis, investasi, pendidikan, teknologi, dan perdagangan.
Dan di sinilah pembicaraan tentang kakao menjadi menarik.
Sumatra Utara memiliki potensi kakao, sementara Belgia terkenal dengan industri cokelatnya. Secara sederhana, hubungan ini seperti mempertemukan pemilik bahan baku dengan negara yang sudah lama tahu bagaimana membuat orang bahagia hanya dengan sebatang cokelat.
Tetapi tentu saja, jangan sampai Indonesia hanya kebagian menjual biji kakao sementara nilai tambah, teknologi, merek, dan keuntungan terbesar tetap dinikmati di luar negeri.
Kalau benar ingin masuk ke era hilirisasi, kakao Sumatra Utara idealnya tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Petani harus mendapatkan manfaat lebih besar, industri pengolahan tumbuh di daerah, tenaga kerja lokal terserap, dan produk akhirnya mampu memakai nama Sumatra Utara sebagai bagian dari identitas global.
Bayangkan saja suatu hari ada cokelat premium bertuliskan: Made from North Sumatran Cocoa.
Nah, itu baru namanya pintu gerbang internasional. Bukan cuma orang Belgia yang masuk ke Medan, tetapi rasa cokelat Sumatra Utara yang ikut berjalan-jalan ke Eropa.
Pada akhirnya, pertemuan Wali Kota Medan dan Dubes Belgia ini tentu masih merupakan langkah awal. Kerja sama internasional selalu terdengar indah ketika dibacakan di ruang pertemuan. Tantangannya justru dimulai setelah rombongan pulang, kamera dimatikan, dan meja kembali kosong.
Sebab kota tidak menjadi internasional hanya karena menyebut dirinya “pintu gerbang”. Pintu gerbang harus punya jalan yang baik, transportasi yang nyaman, lingkungan yang tertata, birokrasi yang tidak membuat tamu tersesat, serta produk lokal yang benar-benar siap bersaing.
Jadi, kalau Medan ingin menjadi pintu gerbang internasional Sumatra, jangan hanya mempercantik kusen pintunya.
Jalan masuknya juga harus dibenahi. Sampahnya jangan dibiarkan menumpuk di halaman. Transportasinya jangan bikin tamu kapok. Dan kalau ada kakao lokal yang bagus, jangan sampai cokelatnya sudah terkenal di Brussel sementara petaninya masih bertanya-tanya kapan harga bijinya ikut naik.
Diplomasi boleh tersenyum. Bisnis boleh berjabat tangan. Tetapi rakyat tetap harus mendapat bagian.
Sebab pintu gerbang yang bagus bukan hanya membuat tamu datang.
Ia juga membuat tuan rumah ikut sejahtera.(***)






