DPRD Medan dan Dandenpom: Silaturahmi, Sinergi, dan Seni Mengucapkan “Siap”

Hankam, Medan, Politik27 Dilihat

DPRD Medan dan Dandenpom: Silaturahmi, Sinergi, dan Seni Mengucapkan “Siap”

MEDAN — Di Medan, menjaga keamanan ternyata tidak hanya membutuhkan aparat, aturan, dan koordinasi. Kadang-kadang juga membutuhkan kunjungan kerja, foto bersama, secangkir kopi, lalu kalimat sakti: “Sinergi harus terus diperkuat.”

Senin (24/8/2026), Ketua DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen, M.Pd.B., menerima kunjungan kerja Komandan Detasemen Polisi Militer I/5 Medan, Letkol Cpm Atep Priatna, S.H., M.Tr.Mil., M.Han., bersama jajaran di ruang kerja Ketua DPRD Medan.

Pertemuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Pokok pembicaraannya pun sangat mulia: mempererat silaturahmi, memperkuat komunikasi, meningkatkan koordinasi, dan bersama-sama menjaga Kota Medan agar tetap aman, tertib, serta kondusif. Singkatnya, semua sepakat bahwa komunikasi itu penting.

Karena tanpa komunikasi, lembaga bisa sibuk sendiri-sendiri. Dengan komunikasi, setidaknya semua bisa duduk satu meja dan sepakat bahwa komunikasi memang penting.

Wong Chun Sen menyambut baik audiensi tersebut. Menurutnya, hubungan antarlembaga harus terus dijaga agar kerja sama yang konstruktif dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah.

Kalimat yang sangat aman. Sebab dalam dunia kelembagaan, “sinergi”, “koordinasi”, “kolaborasi”, dan “komunikasi” memang ibarat bumbu dapur. Hampir setiap pertemuan resmi selalu membutuhkannya.

Tanpa sinergi, rapat terasa hambar. Tanpa koordinasi, program bisa salah alamat. Tanpa kolaborasi, pekerjaan terasa berat. Dan tanpa komunikasi, mungkin tidak ada bahan untuk membuat siaran pers.

Namun, di balik candaan itu ada hal yang memang penting: hubungan antara lembaga sipil dan institusi penegakan disiplin harus dibangun melalui komunikasi yang sehat dan tetap berada dalam koridor kewenangan masing-masing.

Wong Chun Sen pun menegaskan DPRD Medan terbuka terhadap koordinasi dan kerja sama dengan institusi terkait, sepanjang tetap sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing.

Nah, bagian terakhir ini justru yang paling menarik. Sebab sinergi yang baik bukan berarti semua lembaga menjadi satu tim dengan satu kewenangan. Justru sebaliknya, masing-masing harus tahu batas kewenangannya. DPRD punya fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Polisi Militer punya tugas dan kewenangannya sendiri. Kalau semua tetap berada di jalurnya, sinergi menjadi sehat. Kalau semua mulai masuk ke jalur orang lain, sinergi bisa berubah menjadi kemacetan kelembagaan.

Dalam audiensi tersebut, Dandenpom I/5 Medan juga menyampaikan pentingnya komunikasi dengan DPRD Medan sebagai bagian dari memperkuat hubungan antarlembaga. Bagus. Tinggal tantangannya sekarang adalah bagaimana silaturahmi yang berlangsung di ruang Ketua DPRD itu tidak berhenti menjadi agenda kalender, foto dokumentasi, dan kalimat “akan ditingkatkan ke depan”. Sebab masyarakat tentu berharap lebih.

Kota Medan tidak akan menjadi aman hanya karena dua lembaga sudah duduk berdampingan dan sepakat menjaga kondusivitas. Keamanan membutuhkan kerja nyata. Ketertiban membutuhkan penegakan aturan. Dan kondusivitas membutuhkan keberanian untuk bertindak ketika aturan memang dilanggar.

Jadi, kunjungan Dandenpom ke DPRD Medan tentu layak diapresiasi sebagai bagian dari komunikasi antarlembaga.

Tetapi setelah pintu ruang kerja ditutup dan tamu pulang, pekerjaan sebenarnya baru dimulai. Sebab sinergi yang paling bagus bukan yang paling sering disebut dalam berita, melainkan yang paling terasa manfaatnya di tengah masyarakat.

Kalau tidak, jangan-jangan nanti Medan punya terlalu banyak “sinergi” di atas kertas, tetapi masyarakat masih sibuk bertanya: “Sinerginya sudah sampai mana, Pak?” Dan seperti biasa, jawaban paling populer mungkin: “Siap, akan kita koordinasikan.” Kalimat yang pendek. Tapi pekerjaan setelahnya panjang.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *