BONGKAR! Ngerihnya Akal-Akalan Yayasan Memeras Mitra MBG, Perbulan Raup 72 Juta dari Satu Dapur: Siapa Hasva Pasaribu dan ‘Orang Pusat’ di Baliknya?!

BONGKAR! Ngerihnya Akal-Akalan Yayasan Memeras Mitra MBG, Perbulan Raup 72 Juta dari Satu Dapur: Siapa Hasva Pasaribu dan ‘Orang Pusat’ di Baliknya?!

MEDAN – Sebuah skandal besar kini meledak di Sumatera Utara! Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas mulia oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk masa depan anak bangsa, diduga kuat telah dirampok, dikooptasi, dan dijadikan mesin pemeras darah para investor oleh sindikat mafia yayasan lokal yang berjejaring hingga ke pusat kekuasaan di Jakarta!

Jeritan para investor pemodal yang dijadikan “sapi perah” ini menjadi alarm keras bagi Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara (Kejati Sumut). Muncul kecurigaan publik yang sangat mengerikan: Apakah gurita mafia yang beroperasi di Sibolga – Tapanuli Tengah ini memiliki benang merah yang sama dengan eks petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru saja diringkus oleh Kejaksaan Agung RI?!

BEM Sumut Kepung Kejati, Blokir Jalan dan Panjat Pagar

Merespons skandal yang mencederai program nasional tersebut, gelombang massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumatera Utara menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Kantor Kejati Sumut hari ini, Senin (15/6/2026). Di bawah komando langsung Ketua BEM Sumatera Utara, Ilham Syahputra, massa bergerak menggeruduk gedung korps adhyaksa tersebut demi menuntut keadilan.

Suasana di lokasi sempat mencekam dan diwarnai ketegangan tinggi ketika massa aksi nekat memblokir arus lalu lintas di depan Gedung Kejati Sumut, memicu kemacetan panjang.

Situasi kian memanas saat para mahasiswa yang terbakar amarah melakukan aksi nekat memanjat pagar Gedung Kejati Sumut. Aksi saling dorong dan bersitegang dengan petugas pengamanan setempat pun tak terhindarkan saat petugas mencoba menghalau massa yang merangsek masuk.

Di tengah riuhnya aksi, Ketua BEM Sumut Ilham Syahputra langsung memimpin orasi dari atas mobil komando dengan suara lantang. Ia menegaskan agar Kejati Sumut menunjukkan taringnya dan tidak memble dalam membongkar gurita mafia MBG di wilayah Tapteng-Sibolga.

“Kejati Sumut kami minta periksa dan tangkap Hasva Pasaribu, stafnya Jackson yang diduga tukang kutip dan keluarga-keluarganya yang mengatasnamakan fasilitator yayasan yang menerima aliran dana dari Mitra-mitra MBG! Periksa dan telusuri aliran-aliran dana Mitra MBG yang mengalir ke rekening milik Hasva Pasaribu, stafnya Jackson, dan keluarga Hasva Pasaribu, maupun setoran berkedok Imbal Jasa dan lain-lain dari Mitra yang mengalir secara offline,” tegas Ilham di hadapan massa yang bersorak riuh.

Respons Kejati Sumut: Janji Teruskan Aspirasi ke Pimpinan

Ketegangan di depan gerbang akhirnya mereda setelah perwakilan dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara keluar menemui massa aksi untuk berdialog dan menerima dokumen tuntutan. Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sumut, Rizaldi, langsung menghadapi para demonstran dan memberikan pernyataan resmi di depan srikandi dan aktivis mahasiswa.

Di hadapan massa BEM Sumut, Rizaldi mengapresiasi langkah pengawalan kasus ini dan berjanji akan segera meneruskan seluruh aspirasi serta berkas laporan mahasiswa kepada pucuk pimpinan Kejati Sumut agar bisa segera ditindaklanjuti secara hukum.

“Kami akan sampaikan aspirasi dan bukti-bukti ini segera kepada pimpinan,” ucap Rizaldi tegas di hadapan massa aksi, yang langsung disambut kawalan tepuk tangan dan kepuasan dari para mahasiswa.

Modus Brutal ‘Jual Beli Titik’: Investor Diperas, Disuguhi Alat Berkarat!

Praktik culas yang disuarakan mahasiswa ini diduga terjadi di 11 dapur di bawah kendali tiga yayasan yang bergerak bak lintah darat: Yayasan Generasi Bangsa Tapanuli Tengah, Yayasan Generasi Emas Sibolga Tapanuli, dan Yayasan Generasi Emas Tapanuli Tengah. Draf perjanjian kerja sama di lapangan ternyata hanyalah jebakan batman. Investor dipaksa menggelontorkan modal pribadi yang sangat fantastis, berkisar Rp 1 Miliar hingga Rp 1,3 Miliar hanya untuk membangun satu unit dapur. Tragisnya, begitu modal tunai keluar, kendali keuangan langsung dirampas sepihak dengan modus operandi yang sangat kejam:

1. Monopoli Pengadaan & Mark-Up Brutal: Seluruh pembelanjaan material, ompreng, hingga fasilitas dapur dimonopoli oleh yayasan. Hasilnya? Harga digelembungkan (mark-up) gila-gilaan demi menguras kantong investor! Ironisnya, kualitas barang justru di bawah standar operasional BGN, bahkan ditemukan peralatan masak vital dalam kondisi berkarat dan tidak layak pakai!

2. Skema Setoran ‘Darah’ Rp 72 Juta Per Bulan: Ini yang paling membuat bulu kuduk merinding. Pihak yayasan mematok kewajiban setoran tidak masuk akal sebesar Rp 36.000.000 per dua minggu, atau Rp 72.000.000 per bulan untuk satu dapur!

3. Hitungan Gila Pemiskinan Investor: Dari insentif rutin pemerintah sebesar Rp 144 Juta per bulan (Rp 6 juta/hari x 24 hari kerja), yayasan langsung memotong setengahnya secara sepihak. Investor yang menanggung risiko miliaran rupiah dipaksa gigit jari, sementara yayasan yang bermodal “surat kuasa khusus” meraup untung bersih tanpa keluar keringat sepeser pun!

Siapa Hasva Pasaribu? Mengapa Namanya Begitu Kebal Hukum?!

Di tengah lingkaran setan ini, muncul satu nama yang menjadi sorotan tajam: Hasva Pasaribu. Bertindak sebagai fasilitator tunggal yang mengendalikan 11 dapur dari 3 yayasan tersebut, posisinya memicu tanda tanya besar.

Desas-desus panas yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa Hasva Pasaribu bukanlah orang sembarangan. Ia diduga kuat merupakan orang tua atau saudara dari Bupati Tapanuli Tengah, sekaligus orang tua dari Kepala BKPSDM Tapanuli Tengah!Jika informasi ini benar, maka aroma nepotisme dan penyalahgunaan wewenang (abuse of power) tercium sangat menyengat dalam proyek nasional ini.

Lebih mencengangkan lagi, bocoran informasi dari dalam menyebutkan bahwa ketiga yayasan ini dikendalikan langsung oleh sosok kuat yang bercokol di DPP Gerindra di Jakarta! Siapakah “Orang Pusat” misterius ini yang tega merusak program partainya sendiri demi memperkaya diri secara korup?

Konspirasi Dinas Pendidikan: Akankah Kejati Sumut Seret Pak Bupati?

Kejahatan ini diduga tidak berjalan sendiri. Tim investigasi menemukan bukti sahih bahwa yayasan yang difasilitasi Hasva Pasaribu ini telah “dikondisikan” sedemikian rupa untuk menjaring penerima manfaat melalui intervensi Kepala Dinas Pendidikan setempat. Publik kini menuntut jawaban tegas: Apakah Bupati Tapanuli Tengah sengaja menutup mata, atau justru ikut menikmati aliran dana dari praktik curang yang merusak program emas Presiden Prabowo ini?

BOM WAKTU DI DEPAN MATA: 15 JUNI 2026, BUKTI FISIK DIKULITI DI KEJATISU!

Sabar ada batasnya! Bersamaan dengan desakan keras dari BEM Sumut hari ini, tim pelapor menegaskan tidak akan mundur satu jengkal pun. Tepat pada tanggal 15 Juni 2026, sebuah hantaman keras resmi dilayangkan langsung ke meja Kejati Sumut!

Tidak main-main, laporan ini akan menjadi “bom waktu” karena disertai bundelan alat bukti super lengkap: mulai dari bukti transaksi keuangan, dokumen perjanjian akal-akalan, hingga bukti pendukung lainnya.

Aksi berani BEM Sumut hari ini menjadi pemantik awal, yang kini telah resmi diterima oleh Kasi Penkum Kejati Sumut.

Publik memanggil seluruh aktivis pemberantasan korupsi, aktivis pemuda, mahasiswa, dan rekan-rekan media massa di seluruh penjuru negeri: Rapatkan barisan! Bersuaralah dengan lantang! Jangan biarkan perut anak-anak bangsa yang kelaparan dijadikan ladang korupsi oleh para mafia penipu berkedok yayasan!(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *