Musrenbang RKPD 2027: Sinergi Diperkuat, Kopi Dingin Tak Terhindarkan

Bekasi7 Dilihat

Bekasi kembali menggelar hajatan tahunan yang selalu penuh harapan dan notulen: Musrenbang RKPD 2027. Bertempat di Aula Nonon Sonthanie, acara ini menjadi ruang bertemunya gagasan besar, slide presentasi, dan—tentu saja—kalimat sakti: sinergi lintas sektor.

Kepala Bapperida, Dr. Dicky Irawan, dengan mantap mengingatkan bahwa Musrenbang adalah tahapan strategis. Sebuah forum di mana aspirasi masyarakat dan program pemerintah dipertemukan—meski kadang yang satu datang dengan mimpi, yang lain datang dengan pagu anggaran.

“Partisipatif, terintegrasi, dan tepat sasaran,” begitu kira-kira harapannya. Tiga kata yang kalau dijadikan menu mungkin rasanya sudah sangat familiar di lidah birokrasi.

Sementara itu, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Karena, seperti yang diakui bersama, banjir tidak pernah datang sendirian—ia selalu membawa pesan bahwa koordinasi masih perlu ditingkatkan.

“Banjir tidak bisa diselesaikan pemerintah saja,” ujar beliau. Masyarakat pun diharapkan ikut berperan, terutama dalam menjaga bantaran sungai. Sebuah ajakan yang terdengar sederhana, meski realitanya sering harus bersaing dengan kebiasaan lama yang sulit pensiun.

Tak berhenti di situ, konsep sinergi diperluas. Dari pemerintah ke legislatif, ke dunia usaha, ke akademisi, hingga ke masyarakat. Semua diajak duduk bersama, mungkin dengan satu tujuan: memastikan bahwa pembangunan tidak hanya ramai di wacana, tapi juga terlihat di lapangan.

Perguruan tinggi pun didorong ikut serta, menghadirkan inovasi yang aplikatif. Karena, seperti kita tahu, riset yang bagus bukan hanya yang tebal di perpustakaan, tapi yang bisa menjawab persoalan nyata—atau setidaknya tidak hanya berhenti di seminar.

Di sisi lain, generasi muda disebut sebagai kunci masa depan. Mereka harus disiapkan dengan keterampilan kerja, bahkan dibuka peluang kerja sama internasional. Harapannya, anak muda Bekasi tidak hanya siap kerja, tapi juga siap bersaing—baik di dalam negeri maupun di luar grup WhatsApp keluarga.

Yang tak kalah penting, birokrasi diminta beralih dari sekadar output ke outcome. Sebuah transformasi yang terdengar sederhana di atas kertas, tapi seringkali membutuhkan lebih dari sekadar rapat koordinasi dan pointer laser.

Acara pun ditutup dengan sesi aspirasi dan penandatanganan berita acara—simbol komitmen bersama bahwa semua yang dibahas hari ini tidak akan sekadar menjadi arsip, melainkan benar-benar diwujudkan.

Setidaknya, itulah harapannya.

Karena seperti biasa, dalam setiap Musrenbang, yang paling kuat bukan hanya sinerginya—tapi juga optimisme bahwa tahun depan, semuanya akan sedikit lebih baik dari sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *