Polisi Turun ke Desa Mengingatkan Jangan Mencuri Sawit, Tanda Masalah Sudah Terlalu Normal

Kriminal, Nasional, Sumut11 Dilihat

Maruli Tua Siregar turun langsung ke desa-desa di Kotapinang untuk mengajak masyarakat melawan pencurian sawit, narkoba, dan kekerasan seksual terhadap anak.

Sebuah langkah yang patut diapresiasi. Karena setidaknya masih ada aparat yang mau keluar kantor dan mendengar langsung keresahan warga, bukan hanya sibuk menjaga citra institusi lewat konferensi pers dan unggahan media sosial.

Tetapi di balik kegiatan “humanis” itu, tersimpan kenyataan yang jauh lebih pahit: masalah-masalah yang dibahas sebenarnya sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh menjadi bagian normal kehidupan masyarakat.

Pencurian sawit misalnya.

Di banyak daerah perkebunan, mencuri buah sawit kini seperti kejahatan rutin yang nyaris dianggap bagian dari ekosistem ekonomi lokal. Semua tahu terjadi. Semua tahu ada pemainnya. Semua tahu ada penadahnya.

Dan seperti biasa, rantai kejahatan itu tidak akan hidup kalau tidak ada yang membeli hasil curian.

Karena pencuri sawit bukan bekerja untuk pajangan. Mereka mencuri karena ada pasar yang siap menampung.

Maka ketika polisi harus datang langsung mengingatkan para pengepul dan pemilik RAM agar jangan membeli sawit curian, itu sebenarnya tamparan keras bagi lemahnya pengawasan selama ini.

Sebab kalau praktik itu benar-benar ditindak tegas dari dulu, polisi tidak perlu keliling desa hanya untuk mengingatkan sesuatu yang sudah diketahui semua orang.

Yang lebih ironis, pencurian sawit sering terjadi di tengah daerah yang kaya sumber daya, tetapi masyarakat sekitarnya justru hidup pas-pasan.

Perkebunan luas membentang. Truk hasil panen hilir mudik. Tetapi sebagian warga di sekitar kebun tetap bertahan dalam ekonomi yang keras.

Dan di negeri seperti itu, kriminalitas kecil akhirnya tumbuh bukan hanya karena niat jahat, tetapi juga karena ketimpangan yang terus dipelihara diam-diam.

Lalu ada narkoba.

Masalah klasik yang selalu disebut “darurat,” tetapi entah kenapa tidak pernah benar-benar selesai. Sosialisasi terus dilakukan. Seminar terus digelar. Spanduk anti narkoba dipasang di mana-mana.

Namun barang haram tetap beredar dengan tenang seperti bisnis yang terlalu nyaman dengan situasi.

Sementara itu, kekerasan seksual terhadap anak juga dibahas dalam forum yang sama. Sebuah kenyataan yang menunjukkan betapa rusaknya lingkungan sosial kita hari ini.

Anak-anak bahkan tidak lagi aman sepenuhnya di lingkungan yang seharusnya melindungi mereka.

Dan masyarakat sekarang hidup dalam situasi absurd: takut anak terjerumus narkoba, takut jadi korban pelecehan, takut kehilangan sawit, tetapi juga takut bicara terlalu keras karena merasa hukum sering tidak konsisten.

Aditya S.P. Sembiring melalui Kapolsek mengatakan polisi tidak bisa bekerja sendiri.

Benar. Tetapi publik juga tahu, masyarakat pun tidak bisa terus diminta aktif menjaga keamanan kalau kepercayaan terhadap penegakan hukum masih naik turun.

Karena rasa aman tidak dibangun hanya lewat silaturahmi dan dialog aula desa.

Rasa aman lahir ketika masyarakat melihat hukum benar-benar bekerja tegas — bukan hanya kepada pencuri kecil di kebun sawit, tetapi juga kepada para pemain besar yang selama ini nyaman hidup di balik jaringan uang, bisnis, dan kekuasaan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *