Jangan Hanya Bangun Jalan, Bangun Juga Manusianya: Pesan Tri Adhianto yang Layak Jadi Tamparan bagi Banyak Kepala Daerah

Di tengah banyaknya kepala daerah yang gemar memamerkan jalan mulus, gedung megah, taman baru, hingga proyek fisik bernilai miliaran rupiah, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto justru mengingatkan satu hal yang sering terlupakan: pembangunan manusia jauh lebih penting daripada sekadar pembangunan beton.

Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan kritik terhadap cara berpikir banyak pemerintah daerah yang masih menganggap keberhasilan hanya diukur dari banyaknya proyek yang bisa diresmikan menjelang akhir tahun anggaran.

Jalan memang penting. Drainase juga penting. Gedung pelayanan publik tentu dibutuhkan. Namun semua itu hanyalah alat. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sayangnya, tidak sedikit pemerintah yang lebih sibuk membangun sesuatu yang mudah difoto daripada membangun sesuatu yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian, yaitu kualitas sumber daya manusia.

Tri Adhianto juga mengingatkan bahwa organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna tidak boleh hanya menjadi pelengkap acara seremonial pemerintah. Pesan ini patut diapresiasi. Terlalu sering organisasi kepemudaan hanya diingat ketika ada peringatan hari besar, kegiatan gotong royong, atau kebutuhan mengisi kursi undangan dalam sebuah acara resmi.

Padahal, jika benar-benar diberdayakan, Karang Taruna bisa menjadi laboratorium kepemimpinan bagi generasi muda. Dari sanalah lahir kader yang memahami persoalan lingkungan, sosial, ekonomi, hingga pemberdayaan masyarakat. Bukan sekadar menjadi panitia acara, tetapi menjadi penggerak perubahan di tingkat akar rumput.

Menariknya, Tri juga secara terbuka mengakui masih adanya persoalan internal, mulai dari lemahnya komunikasi hingga belum adanya sekretariat Karang Taruna Kota Bekasi. Pengakuan seperti ini jauh lebih sehat daripada berpura-pura seolah semua berjalan sempurna. Sebab, mengakui kekurangan adalah langkah pertama menuju perbaikan.

Namun tentu saja, pesan yang baik harus diikuti kebijakan yang nyata. Jangan sampai ajakan membangun SDM hanya berhenti menjadi pidato setiap kali bertemu pemuda. Pemerintah harus membuktikannya melalui anggaran pendidikan nonformal, pelatihan keterampilan, dukungan terhadap kewirausahaan muda, ruang kreatif, hingga akses terhadap pekerjaan yang layak.

Pembangunan manusia bukan pekerjaan yang selesai dalam satu periode jabatan. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dan tidak selalu menghasilkan foto peresmian yang menarik. Tetapi justru investasi inilah yang menentukan apakah sebuah kota akan maju secara berkelanjutan atau hanya tampak megah dari luar.

Di banyak daerah, pembangunan masih terlalu sering dipahami sebagai urusan semen, aspal, dan beton. Padahal kota yang benar-benar maju adalah kota yang melahirkan masyarakat yang sehat, terdidik, produktif, dan mampu bersaing. Infrastruktur tanpa manusia yang berkualitas hanyalah rangka kosong yang kehilangan arah.

Pesan Tri Adhianto seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh kepala daerah: membangun kota bukan sekadar mempercantik wajahnya, tetapi juga memperkuat isi kepalanya. Karena pada akhirnya, gedung bisa dibangun dalam hitungan bulan. Namun membangun karakter, kompetensi, dan masa depan generasi muda membutuhkan komitmen yang jauh lebih panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *